Lewati ke konten

Home

About Us

Advertisement

Contact Us

  • Facebook
  • X
  • Instagram
  • Pinterest
  • WhatsApp
  • Feed RSS
  • TikTok
WartaBrita

WartaBrita

Info Update Terpercaya

  • Home nasional
  • Internasional
  • Sports
  • otomotif
  • Tekno
  • Muslim
  • Travculpedia
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Lifestyle
Search

7 alasan bersikap lebih baik kepada diri sendiri dapat memperbaiki hubungan menurut psikologi

Avatar Dewa Saputra
Dewa Saputra
Minggu, 4 Oktober 2026 – 08:14
7 alasan bersikap lebih baik kepada diri sendiri dapat memperbaiki hubungan menurut psikologi

    Wartabrita.comBanyak orang mengira bahwa hubungan yang sehat dengan orang lain terutama ditentukan oleh kemampuan berkomunikasi, kesabaran, atau seberapa besar kita memberikan perhatian kepada pasangan, keluarga, dan teman. Semua itu memang penting. Namun, ada satu hubungan yang sering kali terlupakan: hubungan kita dengan diri sendiri.

Cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri, memperlakukan kesalahan, menghadapi kegagalan, dan memahami keterbatasannya ternyata dapat memengaruhi cara ia berhubungan dengan orang lain.

Ketika seseorang terbiasa menyalahkan, merendahkan, atau menuntut dirinya secara berlebihan, pola tersebut dapat terbawa ke dalam hubungan interpersonal. Sebaliknya, ketika seseorang mampu memperlakukan dirinya dengan lebih hangat dan penuh pengertian, ia cenderung memiliki ruang psikologis yang lebih besar untuk memahami, mendengarkan, dan menghargai orang lain.

Dalam psikologi, gagasan ini berkaitan dengan beberapa konsep seperti self-compassion, regulasi emosi, attachment, batasan pribadi, dan kemampuan memahami perspektif orang lain.

Lalu, mengapa bersikap lebih baik kepada diri sendiri dapat membantu meningkatkan kualitas hubungan dengan orang lain?

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (3/10), terdapat tujuh alasannya.

1. Anda menjadi lebih mampu mengelola emosi sebelum bereaksi kepada orang lain

Salah satu alasan utama mengapa hubungan interpersonal menjadi sulit adalah karena manusia tidak selalu merespons berdasarkan situasi yang sedang terjadi. Kita sering bereaksi berdasarkan kondisi emosional yang sedang kita alami.

Ketika sedang lelah, merasa tidak aman, kecewa, atau takut ditolak, komentar sederhana dari orang lain bisa terasa jauh lebih menyakitkan. Akibatnya, seseorang mungkin menjadi mudah tersinggung, defensif, atau marah.

Di sinilah sikap baik kepada diri sendiri menjadi penting.

Bersikap baik kepada diri sendiri bukan berarti membenarkan semua perilaku kita. Artinya, kita mampu mengatakan kepada diri sendiri:

“Saya sedang kecewa. Wajar kalau perasaan ini muncul. Saya tidak harus langsung bereaksi.”

Kalimat sederhana seperti itu memberikan jarak antara emosi dan tindakan.

Dalam psikologi, kemampuan untuk mengelola dan merespons emosi secara lebih adaptif merupakan bagian penting dari regulasi emosi. Ketika seseorang tidak langsung mengikuti dorongan emosionalnya, ia memiliki kesempatan untuk memilih respons yang lebih sesuai dengan situasi.

Misalnya, seseorang mengirim pesan kepada temannya tetapi tidak mendapatkan balasan selama beberapa jam.

Tanpa regulasi emosi, pikirannya mungkin langsung berkembang:

“Dia pasti sudah tidak peduli.”

Kemudian muncul rasa tersinggung dan dorongan untuk mengirim pesan bernada marah.

Namun, seseorang yang mampu memperlakukan dirinya dengan lebih penuh pengertian mungkin berpikir:

“Aku sedang merasa tidak aman karena belum mendapatkan respons. Perasaan itu nyata, tetapi belum tentu menunjukkan fakta.”

Dengan begitu, ia tidak harus langsung bertindak berdasarkan asumsi.

Hubungan menjadi lebih sehat ketika kita mampu merasakan emosi tanpa harus selalu dikendalikan oleh emosi tersebut.

2. Anda tidak terlalu bergantung pada validasi dari orang lain

Setiap manusia membutuhkan penerimaan. Kita ingin dihargai, dicintai, dan dianggap penting oleh orang-orang yang berarti bagi kita.

Masalah muncul ketika harga diri kita sepenuhnya bergantung pada bagaimana orang lain memperlakukan kita.

Jika seseorang hanya merasa berharga ketika dipuji, diperhatikan, atau disetujui, hubungan dapat berubah menjadi tempat untuk terus-menerus mencari validasi.

Akibatnya, muncul berbagai perilaku seperti:

terlalu takut mengecewakan orang lain,

sulit mengatakan “tidak”,

selalu berusaha menyenangkan semua orang,

merasa bersalah ketika memiliki kebutuhan sendiri,

terlalu memikirkan apakah seseorang masih menyukai dirinya,

atau terus mencari kepastian dari pasangan dan teman.

Sikap lebih baik kepada diri sendiri dapat membantu membangun sumber penghargaan diri yang tidak sepenuhnya bergantung pada respons orang lain.

Ini bukan berarti kita menjadi tidak membutuhkan siapa pun.

Justru sebaliknya.

Ketika seseorang merasa cukup aman dengan dirinya sendiri, ia dapat menjalin hubungan karena ingin terhubung, bukan karena merasa harus mendapatkan pengakuan agar dirinya merasa berharga.

Perbedaannya sangat besar.

Dalam hubungan yang sehat, seseorang dapat mengatakan:

“Aku senang kamu menghargai aku, tetapi harga diriku tidak sepenuhnya ditentukan oleh pendapatmu.”

Dengan fondasi seperti itu, hubungan cenderung menjadi lebih bebas dari tekanan.

Kita tidak perlu terus-menerus memaksa orang lain untuk membuktikan bahwa kita layak dicintai.

3. Anda menjadi lebih mudah menetapkan batasan yang sehat

Ada anggapan bahwa menjadi orang baik berarti selalu tersedia untuk orang lain.

Padahal, psikologi hubungan menunjukkan bahwa kedekatan yang sehat juga membutuhkan batasan.

Batasan membantu seseorang menentukan apa yang dapat ia terima, apa yang tidak dapat ia terima, kapan ia membutuhkan waktu sendiri, dan sejauh mana ia bersedia memberikan tenaga atau perhatian.

Namun, menetapkan batasan sering kali terasa sulit bagi orang yang terbiasa mengabaikan kebutuhannya sendiri.

Misalnya, seseorang sebenarnya sudah sangat lelah, tetapi tetap menerima permintaan bantuan karena takut dianggap egois.

Atau seseorang merasa tidak nyaman diperlakukan dengan cara tertentu, tetapi memilih diam karena takut kehilangan hubungan.

Dalam jangka panjang, pola seperti ini dapat menghasilkan kelelahan, frustrasi, bahkan kebencian yang terpendam.

Ironisnya, terlalu sering mengorbankan diri demi mempertahankan hubungan justru dapat merusak hubungan tersebut.

Bersikap baik kepada diri sendiri berarti mengakui bahwa kebutuhan kita juga memiliki nilai.

Kita boleh mengatakan:

“Aku ingin membantu, tetapi saat ini aku tidak punya kapasitas.”

Kita boleh mengatakan:

“Aku tidak nyaman jika diajak berbicara dengan cara seperti itu.”

Dan kita juga boleh mengatakan:

“Aku membutuhkan waktu untuk diriku sendiri.”

Batasan bukan selalu bentuk penolakan terhadap orang lain. Sering kali, batasan justru membantu hubungan menjadi lebih jujur.

Ketika seseorang mampu mengatakan “ya” dan “tidak” dengan lebih tulus, orang lain juga memiliki kesempatan untuk memahami dirinya secara lebih realistis.

4. Anda menjadi lebih mampu berempati tanpa kehilangan diri sendiri

Empati sering dianggap sebagai kemampuan untuk memahami perasaan orang lain.

Namun, ada perbedaan antara empati dan menyerap semua emosi orang lain.

Seseorang yang terlalu keras kepada dirinya sendiri terkadang justru mengalami kesulitan ketika menghadapi emosi orang lain. Ia mungkin merasa harus segera memperbaiki masalah orang tersebut, memberikan solusi, atau mengambil tanggung jawab atas perasaan orang lain.

Padahal, tidak semua emosi harus kita selesaikan.

Ketika kita mampu memperlakukan diri sendiri dengan penuh penerimaan, kita belajar bahwa sebuah emosi dapat hadir tanpa harus langsung dihilangkan.

Prinsip tersebut dapat diterapkan ketika menghadapi orang lain.

Teman kita sedang sedih?

Kita tidak selalu harus mengatakan:

“Sudahlah, jangan dipikirkan.”

Kita bisa mengatakan:

“Aku mengerti ini pasti berat buat kamu.”

Pasangan sedang kecewa?

Kita tidak harus langsung membela diri.

Kita dapat terlebih dahulu mendengarkan:

“Aku ingin memahami kenapa kamu merasa seperti itu.”

Kemampuan untuk hadir tanpa buru-buru memperbaiki atau menghakimi merupakan bagian penting dari hubungan yang berkualitas.

Menariknya, kemampuan ini juga lebih mudah ketika kita sendiri terbiasa menerima emosi pribadi.

Orang yang dapat mengatakan kepada dirinya sendiri, “Aku sedang tidak baik-baik saja dan itu manusiawi,” biasanya memiliki lebih banyak ruang untuk mengatakan hal yang sama kepada orang lain.

5. Anda tidak terlalu mudah menganggap kritik sebagai serangan pribadi

Tidak ada hubungan yang sepenuhnya bebas dari kritik.

Pasangan dapat menyampaikan sesuatu yang tidak kita sukai. Teman mungkin menunjukkan kesalahan kita. Rekan kerja mungkin memberikan evaluasi yang membuat kita tidak nyaman.

Jika harga diri kita sangat rapuh, kritik dapat terasa seperti ancaman terhadap identitas.

Alih-alih mendengar isi kritik, kita mungkin sibuk mempertahankan diri:

“Jadi kamu menganggap aku orang yang buruk?”

Padahal, kritik terhadap satu perilaku tidak selalu berarti penolakan terhadap seluruh diri kita.

Sikap baik kepada diri sendiri membantu memisahkan dua hal:

“Saya melakukan kesalahan”

dan

“Saya adalah orang yang gagal.”

Keduanya sangat berbeda.

Ketika kita mampu mengakui bahwa kita bisa salah tanpa menyimpulkan bahwa diri kita tidak berharga, kita menjadi lebih terbuka terhadap masukan.

Misalnya, pasangan mengatakan:

“Aku merasa kamu kurang mendengarkan ketika aku sedang bercerita.”

Respons defensif mungkin:

“Aku sudah melakukan banyak hal untuk kamu. Kamu tidak pernah menghargainya!”

Respons yang lebih reflektif:

“Aku memang mungkin tidak benar-benar hadir ketika kamu bercerita. Coba ceritakan bagian mana yang membuat kamu merasa tidak didengarkan.”

Respons kedua tidak berarti langsung mengakui bahwa seluruh kritik benar.

Namun, kita memberikan ruang untuk memahami informasi sebelum mengambil kesimpulan.

Hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk berkata:

“Aku mungkin salah.”

Dan kemampuan tersebut jauh lebih mudah ketika kesalahan tidak dianggap sebagai bukti bahwa kita adalah manusia yang buruk.

6. Anda menjadi lebih kecil kemungkinannya melampiaskan luka pribadi kepada orang lain

Manusia terkadang membawa pengalaman emosional dari satu situasi ke situasi lainnya.

Seseorang yang merasa tidak dihargai di tempat kerja mungkin menjadi lebih sensitif ketika berbicara dengan pasangan.

Seseorang yang sedang kecewa terhadap dirinya sendiri mungkin menjadi lebih mudah frustrasi ketika menghadapi kesalahan orang lain.

Ini tidak berarti semua perilaku buruk dapat dibenarkan dengan alasan “sedang terluka.”

Sebaliknya, memahami kondisi internal diri dapat membantu kita mengambil tanggung jawab atas perilaku kita.

Bersikap baik kepada diri sendiri memberi kesempatan untuk bertanya:

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi di dalam diriku?”

Mungkin kita bukan benar-benar marah kepada pasangan.

Mungkin kita sedang lelah.

Mungkin kita merasa gagal.

Mungkin kita sedang takut tidak cukup baik.

Mungkin kita membutuhkan istirahat.

Kesadaran seperti ini dapat mencegah emosi yang tidak diproses berubah menjadi konflik interpersonal.

Daripada berkata:

“Kamu selalu membuat aku kesal!”

kita mungkin bisa mengatakan:

“Aku sedang sangat lelah hari ini. Karena itu, aku merasa lebih mudah tersulut. Aku ingin membicarakan masalah ini setelah aku lebih tenang.”

Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya terhadap komunikasi dapat sangat besar.

Kita tidak menghilangkan masalah.

Kita hanya berusaha menyelesaikannya tanpa menjadikan orang lain sebagai tempat pelampiasan.

7. Hubungan Anda dapat menjadi lebih autentik, bukan sekadar dibangun dari rasa takut kehilangan

Alasan terakhir mungkin yang paling mendasar.

Ketika seseorang menerima dirinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, ia tidak harus terus-menerus memainkan peran tertentu agar disukai.

Ia dapat menjadi lebih autentik.

Dalam hubungan, keaslian ini sangat penting.

Bayangkan seseorang yang selalu berpura-pura baik-baik saja.

Ia selalu mengatakan:

“Terserah kamu.”

Padahal sebenarnya ia punya keinginan sendiri.

Ia selalu mengatakan:

“Aku tidak masalah.”

Padahal sebenarnya ia terluka.

Ia selalu mengatakan:

“Aku bisa.”

Padahal sebenarnya ia sudah kelelahan.

Hubungan mungkin terlihat harmonis dari luar, tetapi di dalamnya terdapat banyak kebutuhan yang tidak pernah diungkapkan.

Bersikap lebih baik kepada diri sendiri memungkinkan seseorang mengakui:

“Aku punya kebutuhan.”

“Aku bisa merasa takut.”

“Aku bisa melakukan kesalahan.”

“Aku tidak selalu kuat.”

“Aku tidak harus disukai semua orang.”

Penerimaan terhadap diri sendiri dapat menciptakan ruang untuk menjadi lebih jujur dalam hubungan.

Dan kejujuran bukan berarti mengatakan segala sesuatu tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.

Kejujuran yang sehat berarti mampu mengungkapkan pengalaman internal secara bertanggung jawab.

Misalnya:

“Aku merasa sedih ketika kamu tidak memberi kabar. Aku tahu kamu mungkin sedang sibuk, tetapi aku ingin kita mencari cara komunikasi yang lebih nyaman untuk kita berdua.”

Ini berbeda dari:

“Kamu memang tidak pernah peduli kepadaku.”

Yang pertama berbicara tentang pengalaman dan kebutuhan. Yang kedua memberikan label dan tuduhan.

Dengan demikian, hubungan dapat berkembang dari pola saling menebak menjadi pola saling memahami.

Bersikap Baik kepada Diri Sendiri Bukan Berarti Menjadi Egois

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang self-compassion adalah anggapan bahwa memperlakukan diri sendiri dengan baik berarti menjadi egois.

Padahal, keduanya berbeda.

Egoisme pada dasarnya berkaitan dengan menempatkan kepentingan diri secara berlebihan tanpa mempertimbangkan orang lain.

Sementara self-compassion berarti memperlakukan diri sendiri dengan perhatian dan pengertian, terutama ketika menghadapi kesalahan, kegagalan, atau kesulitan.

Seseorang dapat peduli kepada dirinya sekaligus peduli kepada orang lain.

Bahkan, dalam banyak situasi, kemampuan untuk menjaga diri sendiri dapat membuat seseorang lebih mampu hadir untuk orang lain dalam jangka panjang.

Kita dapat membayangkannya seperti baterai.

Jika seseorang terus memberikan energi tanpa pernah mengisi ulang dirinya, kapasitasnya pada akhirnya akan berkurang.

Begitu pula dalam hubungan.

Sulit untuk terus memberikan kesabaran ketika kita tidak pernah memberi diri sendiri kesempatan untuk beristirahat.

Sulit mendengarkan orang lain ketika kita tidak pernah mendengarkan kebutuhan diri sendiri.

Sulit memahami kesalahan orang lain ketika kita memperlakukan setiap kesalahan diri sebagai sesuatu yang tidak dapat dimaafkan.

Bagaimana Cara Mulai Bersikap Lebih Baik kepada Diri Sendiri?

Perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Kita dapat memulainya dari cara berbicara kepada diri sendiri.

Ketika melakukan kesalahan, perhatikan apakah suara dalam kepala kita mengatakan:

“Aku memang bodoh.”

atau:

“Aku membuat kesalahan. Apa yang bisa kupelajari dari ini?”

Ketika merasa lelah, perhatikan apakah kita berkata:

“Aku harus terus kuat.”

atau:

“Aku sedang membutuhkan istirahat.”

Ketika seseorang menolak kita, perhatikan apakah kita langsung menyimpulkan:

“Tidak ada yang menyukaiku.”

atau:

“Penolakan ini memang menyakitkan, tetapi tidak menentukan seluruh nilai diriku.”

Perubahan kecil dalam dialog internal dapat membantu membentuk pola hubungan yang berbeda.

Beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dicoba antara lain:

Berbicara kepada diri sendiri seperti berbicara kepada teman dekat.

Mengakui emosi tanpa langsung menghakiminya.

Memberikan waktu untuk beristirahat tanpa merasa bersalah.

Belajar mengatakan “tidak” ketika memang tidak mampu.

Membedakan kesalahan dari identitas diri.

Meminta bantuan ketika membutuhkannya.

Menerima bahwa menjadi manusia berarti memiliki keterbatasan.

Pada Akhirnya, Hubungan dengan Orang Lain Sering Dimulai dari Hubungan dengan Diri Sendiri

Kualitas hubungan interpersonal tidak hanya ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Ia juga dipengaruhi oleh bagaimana kita memperlakukan diri sendiri ketika tidak ada orang lain yang melihat.

Jika kita terbiasa mengabaikan kebutuhan sendiri, kita mungkin kesulitan memahami batasan.

Jika kita terbiasa menghukum diri sendiri karena kesalahan, kita mungkin lebih mudah defensif ketika dikritik.

Jika kita selalu membutuhkan validasi dari orang lain, hubungan dapat dipenuhi rasa takut kehilangan.

Sebaliknya, ketika kita belajar memperlakukan diri dengan lebih penuh pengertian, kita dapat memiliki fondasi psikologis yang lebih sehat untuk berhubungan dengan orang lain.

Kita belajar bahwa emosi tidak harus langsung dilawan.

Kesalahan tidak selalu berarti kegagalan sebagai manusia.

Mengatakan “tidak” tidak selalu berarti tidak peduli.

Meminta bantuan bukan berarti lemah.

Dan mencintai diri sendiri tidak berarti berhenti peduli kepada orang lain.

Pada akhirnya, bersikap lebih baik kepada diri sendiri bukan tentang menjadi seseorang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Ini tentang membangun hubungan internal yang cukup sehat sehingga kita dapat hadir dalam hubungan eksternal dengan lebih sadar, jujur, stabil, dan penuh empati.

Hubungan yang sehat tidak menuntut kita menjadi sempurna.

Ia membutuhkan dua manusia yang sama-sama belajar memahami diri sendiri, memahami satu sama lain, memperbaiki kesalahan, menetapkan batasan, dan terus bertumbuh.

Dan proses itu dapat dimulai dari sebuah langkah sederhana:

berhenti menjadi musuh bagi diri sendiri. ***

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Posts by wartabritaa

About Us

Wartabrita

Warta Brita adalah media digital independen yang hadir untuk menyajikan informasi aktual, faktual, dan terpercaya kepada masyarakat Indonesia. Kami percaya bahwa informasi yang jujur dan akurat adalah fondasi penting dalam membangun masyarakat yang sadar, kritis, dan cerdas.

Berdiri dengan semangat jurnalisme positif, kami berkomitmen menyuguhkan konten dari berbagai kategori seperti:

  • Berita Terkini
  • Nasional & Internasional
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Inspirasi & Viral

Warta Brita dikelola oleh tim muda yang profesional, berpikiran terbuka, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Kami memadukan kecepatan dalam menyajikan informasi dengan ketelitian dalam memverifikasi fakta.

Latest Articles

  • Menang 25 kali dari 78 laga! Head to head Timnas Indonesia vs Thailand jelang final ASEAN Cup 2026

    Menang 25 kali dari 78 laga! Head to head Timnas Indonesia vs Thailand jelang final ASEAN Cup 2026

    Minggu, 4 Oktober 2026 – 11:48
  • Kemenko Hilirisasi dibentuk, akademisi yakin bisa percepat transformasi kekayaan mineral Indonesia

    Kemenko Hilirisasi dibentuk, akademisi yakin bisa percepat transformasi kekayaan mineral Indonesia

    Minggu, 4 Oktober 2026 – 11:35
  • Kimmich ingin tetap di timnas Jerman, jawaban Klopp bikin sang kapten pulang

    Kimmich ingin tetap di timnas Jerman, jawaban Klopp bikin sang kapten pulang

    Minggu, 4 Oktober 2026 – 11:30

Tiktok wartabrita

@wartabrita
  • Instagram
  • Facebook
  • LinkedIn
  • X
  • VK
  • TikTok

Copyright ©2026 WartaBrita. All Rights Reserved

Scroll to Top