Lewati ke konten

Home

About Us

Advertisement

Contact Us

  • Facebook
  • X
  • Instagram
  • Pinterest
  • WhatsApp
  • Feed RSS
  • TikTok
WartaBrita

WartaBrita

Info Update Terpercaya

  • Home nasional
  • Internasional
  • Sports
  • otomotif
  • Tekno
  • Muslim
  • Travculpedia
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Lifestyle
Search

5 weton tunggak semi: Hari pasaran Jawa yang disebut memiliki aliran rezeki tak pernah putus

Avatar Dewa Saputra
Dewa Saputra
Minggu, 4 Oktober 2026 – 08:41
5 weton tunggak semi: Hari pasaran Jawa yang disebut memiliki aliran rezeki tak pernah putus

   

Wartabrita.comDalam tradisi masyarakat Jawa, weton tidak hanya digunakan untuk mengetahui hari kelahiran seseorang, tetapi juga kerap dikaitkan dengan watak, perjalanan hidup, hingga gambaran mengenai rezeki. 

Salah satu istilah yang cukup populer dalam Primbon Jawa adalah Tunggak Semi, sebuah gambaran mengenai sesuatu yang tetap dapat tumbuh kembali meskipun sebelumnya telah dipotong atau mengalami masa sulit.

Secara filosofis, Tunggak Semi menggambarkan daya hidup yang tidak mudah berhenti. Ketika satu sumber rezeki berkurang, dipercaya masih ada peluang lain yang dapat tumbuh dan menjadi jalan baru. 

Karena itulah, weton yang disebut berada di bawah naungan Tunggak Semi kerap dikaitkan dengan rezeki yang terus berkembang dari waktu ke waktu.

Dilansir dari YouTube Nawi Krama TV, berikut lima weton yang dalam tafsir Primbon Jawa disebut memiliki naungan Tunggak Semi dan dikaitkan dengan aliran rezeki yang terus tumbuh. Simak, berikut informasi lengkapnya.

1. Senin Legi

Weton Senin Legi menjadi salah satu nama yang kerap disebut ketika membahas Tunggak Semi dalam Primbon Jawa. Kombinasi hari Senin dan pasaran Legi memiliki neptu 9, yakni empat dari hari Senin dan lima dari pasaran Legi. Dalam sejumlah tafsir tradisional, Senin Legi digambarkan sebagai pribadi yang sederhana, murah hati, ceria, sekaligus memiliki keteguhan dalam menjalani kehidupan.

Sosok dengan weton ini dipercaya tidak mudah menyerah ketika menghadapi perubahan keadaan. Mereka dapat mengalami masa ketika kehidupan terasa sulit, tetapi mempunyai dorongan untuk kembali menata keadaan dan mencari jalan keluar. Karakter semacam inilah yang kemudian selaras dengan filosofi Tunggak Semi, yakni sesuatu yang kembali tumbuh setelah sebelumnya mengalami keterbatasan. Tafsir mengenai Senin Legi juga kerap menggambarkan mereka sebagai pribadi yang mampu menjaga prinsip dan tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan.

Dalam urusan rezeki, Tunggak Semi bukan semata-mata dimaknai sebagai mendapatkan uang dalam jumlah besar secara tiba-tiba. Filosofinya lebih dekat dengan gambaran bahwa sumber penghasilan dapat terus muncul dan berkembang secara bertahap. Ketika satu kesempatan berakhir, masih terdapat peluang lain yang dapat dimanfaatkan.

Karena itu, Senin Legi dalam tafsir Primbon Jawa sering diasosiasikan dengan rezeki yang tumbuh perlahan tetapi berkesinambungan. Sifat gigih, mandiri, dan kemampuan mempertahankan hubungan baik menjadi bagian yang dianggap mendukung perjalanan tersebut.

2. Minggu Wage

Minggu Wage juga sering disebut dalam pembahasan mengenai weton yang berada di bawah naungan Tunggak Semi. Weton ini memiliki neptu 9, berasal dari nilai hari Minggu sebesar lima dan pasaran Wage sebesar empat. Dalam tafsir tradisional, pemilik Minggu Wage kerap digambarkan mempunyai hati yang baik, penuh perhatian, mudah beradaptasi, serta memiliki kemampuan membangun hubungan dengan orang lain.

Karakter sosial tersebut menjadi salah satu hal yang menarik ketika dikaitkan dengan konsep rezeki. Dalam kehidupan sehari-hari, peluang tidak selalu hadir dalam bentuk uang atau keuntungan langsung. Hubungan baik dengan orang lain juga dapat membuka berbagai kesempatan, baik dalam pekerjaan, usaha maupun aktivitas sosial. Karena itu, kemampuan Minggu Wage dalam menjalin relasi sering dikaitkan dengan terbukanya jalan rezeki.

Di sisi lain, Primbon Jawa juga menggambarkan adanya karakter emosional yang perlu dikendalikan. Sosok Minggu Wage disebut dapat memiliki pembawaan lembut dan penuh kasih, tetapi ketika emosinya tersulut, reaksinya dapat berubah menjadi lebih kuat. Tafsir tersebut memperlihatkan bahwa setiap weton tidak hanya memiliki sisi positif, tetapi juga karakter yang perlu dikelola.

Naungan Tunggak Semi kemudian dimaknai sebagai simbol bahwa rezeki pemilik Minggu Wage dapat kembali tumbuh setelah melewati masa tertentu. Rezeki tidak selalu digambarkan datang sekaligus, melainkan berkembang sedikit demi sedikit seiring pengalaman, usaha, dan kemampuan mempertahankan hubungan dengan lingkungan.

Dengan demikian, Minggu Wage dalam tafsir Primbon Jawa lebih tepat dipahami sebagai gambaran tentang keberlanjutan dan kemampuan bangkit. Kepercayaan tersebut tidak berarti setiap pemilik weton otomatis kaya, tetapi menjadi bagian dari narasi budaya mengenai rezeki yang terus mencari jalan.

3. Rabu Pahing

Rabu Pahing menjadi weton lain yang dalam sejumlah rujukan Primbon Jawa dikaitkan dengan Tunggak Semi. Kombinasi Rabu Pahing memiliki neptu 16, yang berasal dari nilai hari Rabu sebesar tujuh dan pasaran Pahing sebesar sembilan. Dalam tafsir tradisional, pemilik weton ini sering digambarkan sebagai pribadi yang tenang, sabar, ramah, serta mempunyai kemampuan dalam menghadapi berbagai persoalan.

Salah satu karakter yang kerap dikaitkan dengan Rabu Pahing adalah kemampuan membangun relasi. Mereka dipercaya memiliki wawasan luas dan dapat bekerja dengan tekun. Karakter tersebut membuat Rabu Pahing sering diasosiasikan dengan aktivitas yang membutuhkan ketelitian, kemampuan berpikir, serta konsistensi dalam menjalankan pekerjaan.

Dalam konteks Tunggak Semi, kemampuan untuk terus bergerak menjadi bagian penting dari filosofi rezeki yang tumbuh. Rezeki tidak selalu dipandang sebagai sesuatu yang langsung besar sejak awal. Sebaliknya, ada gambaran bahwa hasil dapat berkembang setelah seseorang melewati berbagai pengalaman dan terus memperbaiki cara menjalani kehidupannya.

Rabu Pahing juga disebut memiliki kecenderungan berhitung dalam urusan materi. Dalam tafsir tertentu, sifat tersebut dapat menjadi kelebihan karena membuat seseorang lebih berhati-hati ketika mengelola sumber daya. Namun, apabila berlebihan, sikap terlalu memperhitungkan keuntungan dan kerugian juga dapat menjadi sisi yang perlu diperhatikan.

Dalam sejumlah pembahasan mengenai Primbon Jawa, Rabu Pahing bahkan disebut berada di bawah naungan Tunggak Semi, Ilmu Latipan, dan Tulus Banyu. Tunggak Semi dikaitkan dengan luasnya peluang rezeki, sementara dua istilah lainnya menggambarkan kecerdasan serta ketulusan.

4. Kamis Wage

Kamis Wage juga termasuk weton yang dalam sejumlah rujukan tradisional dikaitkan dengan Tunggak Semi. Weton ini memiliki neptu 12, berasal dari nilai hari Kamis sebesar delapan dan pasaran Wage sebesar empat. Dalam filosofi Primbon Jawa, setiap kombinasi hari dan pasaran memiliki karakter yang berbeda sehingga tafsir terhadap rezekinya pun dapat beragam.

Kamis Wage sering digambarkan sebagai pribadi yang cenderung tenang dan tidak selalu menunjukkan semua pemikirannya kepada orang lain. Pembawaan yang lebih tertutup dapat membuat sosok ini terlihat serius, tetapi dalam sejumlah tafsir, karakter tersebut justru dikaitkan dengan kehati-hatian ketika menghadapi persoalan.

Jika dikaitkan dengan Tunggak Semi, kehati-hatian dapat dipandang sebagai bagian dari kemampuan menjaga sesuatu yang telah dimiliki. Rezeki yang berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan bagaimana seseorang memperoleh penghasilan, tetapi juga bagaimana ia mempertahankan dan mengelolanya.

Filosofi Tunggak Semi sendiri menggambarkan sebuah tunggak atau pangkal pohon yang mampu menumbuhkan tunas baru. Gambaran tersebut menjadi simbol bahwa sesuatu yang tampak telah berakhir ternyata masih dapat menghasilkan kehidupan baru. Karena itu, istilah ini kerap digunakan untuk menggambarkan pola rezeki yang tetap memiliki jalan meskipun seseorang menghadapi masa sulit.

Bagi Kamis Wage, tafsir tersebut dapat dipahami sebagai gambaran mengenai kemampuan bertahan dan mencari peluang baru. Ketika sebuah pekerjaan, usaha, atau kesempatan tidak lagi memberikan hasil seperti sebelumnya, masih ada kemungkinan muncul jalan berbeda. Dalam tradisi Primbon Jawa, kemampuan bangkit semacam ini menjadi salah satu makna penting dari Tunggak Semi.

Namun, keyakinan tersebut tetap berada dalam ranah budaya. Kondisi ekonomi seseorang pada kenyataannya dipengaruhi banyak faktor, termasuk usaha, keterampilan, kesempatan, keputusan finansial, dan keadaan lingkungan.

5. Jumat Kliwon

Jumat Kliwon merupakan salah satu weton yang juga kerap dikaitkan dengan Tunggak Semi dalam berbagai pembahasan mengenai Primbon Jawa. Weton ini memiliki neptu 14, terdiri dari nilai hari Jumat sebesar enam dan pasaran Kliwon sebesar delapan. Dalam tafsir tradisional, Jumat Kliwon sering digambarkan memiliki karakter kuat, intuitif, serta mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam lingkungan sosialnya.

Kaitan dengan Tunggak Semi memberikan gambaran mengenai rezeki yang dapat terus berkembang. Filosofinya bukan berarti pemilik Jumat Kliwon akan selalu mendapatkan uang tanpa melakukan usaha, melainkan menggambarkan adanya kemampuan untuk menemukan kembali jalan ketika mengalami hambatan.

Sejumlah pembahasan Primbon Jawa juga menghubungkan Jumat Kliwon dengan kemampuan mendapatkan rezeki dan keberuntungan. Salah satu rujukan mengenai weton tahun 2026, misalnya, menyebut Jumat Kliwon berada di bawah naungan Tunggak Semi dan mengaitkannya dengan gambaran rezeki yang terus tumbuh.

Dalam kehidupan sehari-hari, karakter yang kuat dan kemampuan membaca keadaan dapat menjadi modal untuk menghadapi perubahan. Ketika situasi tidak sesuai harapan, pemilik weton ini dalam tafsir tradisional dipercaya mempunyai kemampuan untuk menata kembali langkahnya. Dari sinilah simbol Tunggak Semi menjadi relevan: sesuatu yang terlihat berhenti belum tentu benar-benar berakhir.

Jumat Kliwon juga menjadi pengingat bahwa konsep rezeki dalam budaya Jawa tidak hanya berbicara mengenai jumlah harta. Rezeki dapat dipahami lebih luas sebagai kesempatan, pekerjaan, relasi, kesehatan, dukungan keluarga, maupun kemampuan untuk bangkit setelah menghadapi kesulitan.

Karena itu, sebutan Tunggak Semi pada Jumat Kliwon lebih tepat dilihat sebagai simbol keberlanjutan dan daya bangkit. Kepercayaan tersebut menjadi bagian dari kekayaan tradisi Primbon Jawa yang diwariskan sebagai cara masyarakat terdahulu membaca kehidupan melalui kombinasi hari dan pasaran.

Makna Tunggak Semi dalam Primbon Jawa

Pada dasarnya, Tunggak Semi memiliki gambaran filosofis yang kuat. Tunggak merupakan bagian pangkal atau sisa batang pohon, sedangkan semi merujuk pada tumbuhnya tunas baru. Dari gambaran tersebut muncul simbol bahwa kehidupan dapat kembali tumbuh meskipun sebelumnya mengalami kehilangan atau keterbatasan.

Dalam konteks weton, filosofi tersebut kemudian dikaitkan dengan rezeki yang tidak mudah berhenti. Ketika satu sumber penghasilan berkurang, dipercaya dapat muncul jalan lain. Rezeki juga tidak harus selalu datang dalam jumlah besar, tetapi dapat berkembang secara bertahap dan memberikan kecukupan dalam jangka panjang.

Sejumlah sumber Primbon Jawa memberikan daftar weton yang berbeda ketika membahas Tunggak Semi. Hal tersebut menunjukkan bahwa perhitungan dan pakem yang digunakan dapat beragam. Karena itu, pembaca sebaiknya memahami daftar weton tersebut sebagai salah satu tafsir dalam tradisi Jawa, bukan sebagai aturan tunggal yang berlaku untuk semua sumber.

Terlepas dari perbedaan tersebut, filosofi yang paling menonjol dari Tunggak Semi adalah kemampuan untuk terus tumbuh, bertahan, dan menemukan jalan baru. Nilai tersebut menjadi alasan mengapa istilah ini sampai sekarang masih menarik perhatian ketika masyarakat membicarakan weton, rezeki, dan perjalanan kehidupan.

Dalam kehidupan nyata, kelancaran rezeki tetap berkaitan dengan banyak hal, termasuk kerja keras, kemampuan mengelola keuangan, keterampilan, relasi, kesempatan, serta keputusan yang diambil seseorang. Karena itu, Primbon Jawa dapat ditempatkan sebagai bagian dari pengetahuan budaya dan refleksi, sementara hasil kehidupan tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor nyata.

***

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Posts by wartabritaa

About Us

Wartabrita

Warta Brita adalah media digital independen yang hadir untuk menyajikan informasi aktual, faktual, dan terpercaya kepada masyarakat Indonesia. Kami percaya bahwa informasi yang jujur dan akurat adalah fondasi penting dalam membangun masyarakat yang sadar, kritis, dan cerdas.

Berdiri dengan semangat jurnalisme positif, kami berkomitmen menyuguhkan konten dari berbagai kategori seperti:

  • Berita Terkini
  • Nasional & Internasional
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Inspirasi & Viral

Warta Brita dikelola oleh tim muda yang profesional, berpikiran terbuka, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Kami memadukan kecepatan dalam menyajikan informasi dengan ketelitian dalam memverifikasi fakta.

Latest Articles

  • Menang 25 kali dari 78 laga! Head to head Timnas Indonesia vs Thailand jelang final ASEAN Cup 2026

    Menang 25 kali dari 78 laga! Head to head Timnas Indonesia vs Thailand jelang final ASEAN Cup 2026

    Minggu, 4 Oktober 2026 – 11:48
  • Kemenko Hilirisasi dibentuk, akademisi yakin bisa percepat transformasi kekayaan mineral Indonesia

    Kemenko Hilirisasi dibentuk, akademisi yakin bisa percepat transformasi kekayaan mineral Indonesia

    Minggu, 4 Oktober 2026 – 11:35
  • Kimmich ingin tetap di timnas Jerman, jawaban Klopp bikin sang kapten pulang

    Kimmich ingin tetap di timnas Jerman, jawaban Klopp bikin sang kapten pulang

    Minggu, 4 Oktober 2026 – 11:30

Tiktok wartabrita

@wartabrita
  • Instagram
  • Facebook
  • LinkedIn
  • X
  • VK
  • TikTok

Copyright ©2026 WartaBrita. All Rights Reserved

Scroll to Top