JAKARTA, Wartabrita.com – Sebuah video yang memperlihatkan tangis seorang pengemudi ojek online (ojol) viral di media sosial dan mengundang simpati warganet. Pria paruh baya asal Bekasi itu tak kuasa menahan air mata ketika sepeda motor yang menjadi alat utama mencari nafkah diangkut petugas Dinas Perhubungan (Dishub) saat operasi penertiban parkir liar.
Dalam video yang beredar, sang driver terlihat baru saja mengambil pesanan makanan dari sebuah restoran. Sambil menenteng bingkisan makanan pelanggan, ia bergegas menuju lokasi parkir. Namun sesampainya di sana, motornya sudah berada di atas truk operasional Dishub.
Tak mampu menyembunyikan kepanikannya, pria tersebut langsung menghampiri petugas dan memohon agar motornya diturunkan. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, ia mengaku kendaraan tersebut merupakan satu-satunya sumber penghasilan bagi keluarganya.
“Saya butuh uang pak, saya butuh makan. Tolong pak, anak saya butuh sekolah. Rumah saya di Bekasi,” ucapnya sambil menangis dalam video yang beredar.
Pria itu juga mengaku baru mulai bekerja sejak pagi dan belum mendapatkan penghasilan sama sekali. Kondisi tersebut membuatnya semakin terpukul ketika kendaraan yang dipakai untuk bekerja justru terjaring razia.
Video tersebut dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial dan memicu beragam tanggapan dari masyarakat. Banyak warganet yang menyampaikan rasa iba terhadap nasib sang pengemudi, sementara sebagian lainnya mengingatkan pentingnya mematuhi aturan parkir yang berlaku.
Kasus serupa pernah terjadi di Jakarta. Pada Maret 2022, Dinas Perhubungan DKI Jakarta menjelaskan bahwa penindakan terhadap kendaraan yang parkir sembarangan dilakukan sesuai aturan yang berlaku dan berlaku bagi seluruh kendaraan tanpa membedakan profesi pengemudinya. Kepala Dishub DKI saat itu menyatakan bahwa pengemudi dapat memanfaatkan area parkir resmi yang tersedia untuk menghindari penertiban.
Hingga kini, lokasi dan waktu pasti kejadian dalam video terbaru tersebut belum diketahui secara resmi. Namun, momen memilukan itu kembali memunculkan perdebatan soal penegakan aturan di lapangan dan kondisi para pekerja sektor informal yang menggantungkan hidup dari kendaraan yang mereka gunakan sehari-hari.









Tinggalkan Balasan