Pengalaman Buruk Asis yang Mencari Pekerjaan di Kalimantan Utara
KALIMANTAN UTARA, Wartabrita.com – Asis, seorang nelayan dari Desa Cidadap, Kecamatan Pelabuhan Ratu, Kota Sukabumi, Jawa Barat (Jabar), bersama 14 rekan lainnya nekat meninggalkan kampung halaman untuk mencari pekerjaan di Kalimantan Utara (Kaltara). Tujuannya adalah untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Namun, pengalamannya justru berujung pada kekecewaan.
Tawaran Pekerjaan yang Menipu
Awalnya, Asis menerima tawaran kerja sebagai penyadap getah pohon di salah satu perusahaan di Kaltara dengan gaji sebesar Rp3,9 juta per bulan. Angka ini terdengar sangat menarik bagi Asis dan kawan-kawannya yang sedang kesulitan mencari pekerjaan. Tawaran tersebut diberikan oleh dua orang inisial HE dan AM, yang dikenalkan oleh teman dekat.
Asis mengaku bahwa ia baru saja mengenal kedua orang tersebut. Ia juga tidak menandatangani kontrak sebelum berangkat. Kontrak hanya diberikan setelah mereka tiba di lokasi kerja, yaitu Desa Sajau, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan. Saat melihat isi kontrak, Asis merasa terkejut karena nominal gaji Rp3,9 juta yang sebelumnya dijanjikan tidak tercantum dalam kontrak tersebut.
Kondisi Kerja yang Berbeda
Setelah tiba di lokasi, Asis dan rekan-rekannya menjalani masa training selama satu bulan. Upah yang diterima selama masa training hanya Rp75 ribu per hari. Dengan asumsi 20 hari kerja, total penghasilan sekitar Rp1,5 juta. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan janji awal. Selain itu, sistem pengupahan ternyata berbeda, yaitu berdasarkan borongan, bukan gaji bulanan.
Menurut Asis, kondisi tersebut membuat mereka merasa tertipu. Meski begitu, mereka tetap menandatangani kontrak karena semua biaya perjalanan ditanggung oleh perusahaan. Hal ini membuat mereka yakin bahwa pekerjaan tersebut benar-benar ada.
Keputusan untuk Pergi
Setelah menjalani masa training dan melihat sistem kerja yang tidak sesuai dengan janji awal, Asis dan 14 rekan lainnya memutuskan untuk meninggalkan lokasi kerja. Mereka kabur dari mess perusahaan tanpa sepengetahuan pihak kantor. Perjalanan pulang memakan banyak biaya, hingga uang yang tersisa hanya sekitar Rp200 ribu.
Dari Sajau menuju Tanjung Selor, mereka menggunakan kendaraan travel dengan biaya sekitar Rp150 ribu per orang. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke Tarakan dengan speedboat dengan biaya serupa. Uang yang tersisa sangat minim, bahkan tidak cukup untuk membeli tiket pulang.
Harapan untuk Bantuan
Saat ini, Asis dan rekan-rekannya tinggal di shelter Dinsos Tarakan. Mereka berharap ada bantuan dari pihak berwenang atau pemerintah untuk membantu memulangkan mereka kembali ke Jawa Barat. Asis secara khusus berharap Gubernur Jabar, Kang Dedi Mulyadi (KDM), dapat membantu mereka kembali ke kampung halaman.
Asis menyebut bahwa ia sudah menghubungi keluarganya di Pelabuhan Ratu. Namun, di kampung juga tidak banyak yang bisa dilakukan. Keluarganya hanya bisa menunggu dan berharap adanya bantuan.
Kembali ke Kehidupan Sebagai Nelayan
Bagi Asis, perjalanan ke Kaltara seharusnya menjadi jalan keluar dari kesulitan hidup sebagai nelayan di Pelabuhan Ratu. Namun, kini ia hanya bisa berharap. Harapan yang sama seperti ketika pertama kali ia menerima tawaran pekerjaan ke Kaltara.
“Kalau ada bantuan kembali ke kampung, ya kembali jadi nelayan lagi di sana,” kata Asis.









Tinggalkan Balasan