RUSIA, Wartabrita.com – Cadangan emas Rusia menyusut 43,5 ton sepanjang paruh pertama 2026. Penurunan tersebut terjadi ketika pemerintah Rusia menghadapi tekanan defisit anggaran dan kebutuhan pendanaan perang di Ukraina.
Data Bank of Russia menunjukkan kepemilikan emas Rusia berada di angka 73,4 juta troy ons atau sekitar 2.282 ton pada awal Juli 2026. Jumlah tersebut turun sekitar 43,5 ton dibandingkan awal tahun. Nilainya juga tercatat sekitar US$299 miliar pada 1 Juli.
Penurunan cadangan tersebut menjadi perhatian karena Rusia selama bertahun-tahun menjadikan emas sebagai salah satu aset penting untuk memperkuat ketahanan keuangannya menghadapi sanksi Barat.
Cadangan Emas Rusia Turun di Tengah Defisit Anggaran
Penurunan cadangan emas berlangsung ketika kondisi fiskal Rusia semakin tertekan. Pemerintah menghadapi kebutuhan belanja yang tinggi, terutama untuk pertahanan dan perang di Ukraina.
Financial Times melaporkan bahwa Kementerian Keuangan Rusia memperkirakan pengeluaran untuk perang dapat melampaui anggaran sedikitnya 2 triliun rubel atau sekitar US$28 miliar pada 2026. Dalam skenario yang lebih buruk, kelebihan pengeluaran tersebut bahkan dapat mencapai 4 triliun rubel.
Tekanan tersebut turut tercermin dalam defisit anggaran. Data pemerintah Rusia yang dilaporkan Reuters menunjukkan defisit federal mencapai 5,73 triliun rubel atau sekitar 2,5 persen dari produk domestik bruto pada semester pertama 2026.
Pemerintah juga memperkirakan defisit sepanjang 2026 mencapai 4,83 triliun rubel atau sekitar 1,6 persen dari PDB. Angka itu lebih tinggi dibandingkan target awal sebesar 3,79 triliun rubel.
Kondisi tersebut membuat pemerintah perlu memanfaatkan berbagai sumber pembiayaan, termasuk aset yang selama ini tersimpan sebagai cadangan.
Emas Menjadi Aset Likuid Rusia
Penjualan atau pencairan aset emas bukan sepenuhnya fenomena baru bagi Rusia. Pemerintah telah menggunakan aset dalam National Wealth Fund (NWF) untuk membantu pembiayaan anggaran ketika pendapatan negara mengalami tekanan.
Data yang dikutip dari Kementerian Keuangan Rusia menunjukkan NWF menjual sebagian emas dalam bentuk unallocated gold serta yuan pada awal 2026. Pada Januari, sekitar 5.147,5 kilogram emas dalam bentuk tersebut dijual dan hasilnya masuk ke rekening anggaran federal untuk membantu membiayai defisit.
Pada Februari, NWF kembali menjual sekitar 7,897 ton emas dalam bentuk yang sama bersama aset yuan. Transaksi tersebut menghasilkan sekitar 244,4 miliar rubel dan hasilnya dikreditkan ke rekening anggaran federal.
Langkah itu menunjukkan bagaimana emas dapat berfungsi sebagai aset likuid ketika pemerintah membutuhkan dana.
Namun, penurunan cadangan emas Bank of Russia tidak berarti seluruh emas tersebut secara langsung dijual ke pasar internasional. Sumber dan mekanisme transaksi perlu dibedakan antara cadangan bank sentral dan aset NWF yang dikelola pemerintah.
Belanja Pertahanan Menambah Tekanan
Salah satu faktor utama di balik tekanan fiskal Rusia adalah meningkatnya belanja pertahanan.
Financial Times melaporkan Rusia mengalokasikan hampir 40 persen anggarannya untuk pertahanan dan keamanan pada 2026. Besarnya pengeluaran tersebut membuat pemerintah harus mempertimbangkan pembekuan sebagian belanja nonmiliter untuk menjaga kondisi fiskal.
Di sisi lain, pendapatan energi tetap menjadi faktor penting bagi kemampuan Rusia membiayai pengeluarannya. Pendapatan dari minyak dan gas dapat membantu mengurangi tekanan ketika harga komoditas menguat, tetapi penurunan harga minyak dapat kembali memperlebar kesenjangan anggaran.
Karena itu, kemampuan Rusia mempertahankan pengeluaran tinggi sangat bergantung pada kombinasi harga energi, penerimaan negara, pembiayaan domestik, dan penggunaan aset cadangan.
Cadangan Emas Rusia Masih Besar
Meski mengalami penurunan, cadangan emas Rusia masih berada pada level yang sangat besar.
Bank of Russia mencatat nilai emas dalam cadangan internasional mencapai sekitar US$299 miliar pada awal Juli 2026. Pada saat yang sama, total cadangan internasional Rusia mencapai sekitar US$720,4 miliar.
Artinya, penurunan cadangan emas tidak otomatis menunjukkan Rusia berada di ambang kebangkrutan. Negara tersebut masih memiliki cadangan internasional yang besar serta kemampuan untuk memperoleh pendapatan dari ekspor energi.
Namun, laju penggunaan aset cadangan tetap menjadi indikator penting untuk melihat seberapa besar tekanan fiskal yang harus dihadapi Moskow.
Defisit Anggaran Rusia Diperkirakan Membesar
Tekanan terhadap keuangan Rusia terlihat semakin jelas sepanjang 2026. Reuters melaporkan pemerintah memperkirakan defisit anggaran tahun ini dapat melampaui target awal lebih dari 1 triliun rubel. Pengeluaran pemerintah diproyeksikan mencapai 45,11 triliun rubel, sementara pendapatan diperkirakan berada di sekitar 40,28 triliun rubel.
Bank of Russia juga menilai pelebaran defisit dapat meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kebijakan moneter dan keputusan suku bunga di tengah perlambatan ekonomi.
Sementara itu, penggunaan NWF menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk mengelola tekanan tersebut. Bank of Russia menyatakan transaksi valuta asing pada paruh kedua 2026 juga memperhitungkan penggunaan dan pengelolaan sumber daya NWF.
Bukan Berarti Rusia Segera Krisis Keuangan
Penjualan atau pencairan emas memang menunjukkan adanya tekanan terhadap keuangan negara, tetapi indikator tersebut belum cukup untuk menyimpulkan Rusia akan segera mengalami krisis keuangan.
Cadangan internasional yang masih besar memberikan bantalan bagi pemerintah. Selain itu, Rusia tetap memiliki sektor energi dan industri pertambangan yang dapat menjadi sumber penerimaan.
Masalah yang lebih besar justru terletak pada keberlanjutan pola belanja. Jika pengeluaran pertahanan terus meningkat sementara pendapatan energi melemah, pemerintah akan menghadapi pilihan yang semakin sulit antara memangkas belanja sipil, meningkatkan penerimaan, memperbesar utang domestik, atau kembali menggunakan aset cadangan.
Dengan demikian, menyusutnya cadangan emas Rusia lebih tepat dibaca sebagai salah satu tanda meningkatnya tekanan fiskal, bukan sebagai bukti bahwa negara tersebut sudah kehabisan uang.
Dalam jangka panjang, kemampuan Moskow mempertahankan perang dan stabilitas ekonomi akan sangat bergantung pada harga energi, kemampuan memperoleh pembiayaan, kondisi ekonomi domestik, serta seberapa cepat pemerintah menggunakan aset likuid yang tersisa.









Tinggalkan Balasan