Latar Belakang Rumah Susanah
Rumah Susanah adalah bangunan semi-permanen dengan ukuran sekitar 3×3 meter yang berada di atas lahan milik ibu kandungnya. Pemasangan garis polisi di sekitar rumah tersebut dilakukan beberapa hari sebelum Senin (17/8/2026), saat Susanah dan suaminya, Didim, masih berada di Jakarta. Pemasangan garis polisi ini dibicarakan oleh Ketua RW, kepala desa, dan kepala dusun setempat karena jumlah awak media yang terus-menerus mendatangi rumah Susanah. Salah satu pertimbangan utama adalah kondisi psikologis anak-anak Susanah.
Susanah, seorang buruh jahit berusia 38 tahun, disebut oleh Prabowo Subianto sebagai pengupas bawang dengan upah Rp 700 ribu per kilogram. Namun hingga kini, Susanah belum pulang ke rumahnya. Ia dan Didim diundang ke Jakarta pada Rabu (12/8/2026) untuk menghadiri Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Keduanya kemudian juga turut serta dalam upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka.
Sementara itu, tiga anak Susanah tinggal di rumah dan ditemani Yuyum, ibu mertua Susanah. Saat didatangi, potongan garis polisi berwarna kuning masih terlihat terikat pada atap di teras rumah Susanah. Meskipun demikian, garis polisi tersebut tidak membentang di depan rumah.
Struktur Rumah dan Aktivitas Keluarga
Bagian dalam rumah Susanah dibagi menjadi dua kamar tidur, dapur, dan ruang tamu menggunakan triplek. Di luar rumah terlihat mesin jahit, kain majun, dan karung berisi kain perca. Menurut Yuyum, ibu mertua Susanah, menantunya dan Didim berangkat ke Jakarta untuk memenuhi undangan menghadiri Sidang Tahunan MPR. Keduanya kemudian juga diundang menghadiri upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka.
“Ya, dari hari Rabu. Belum pulang nih sampai hari ini. Katanya sih besok pulang,” kata Yuyum.
Menurut Iis Isnawati, istri Ketua RT setempat, keluarga Susanah masuk kategori desil 1 dan tercatat sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Mereka menerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Program Keluarga Harapan (PKH), serta bantuan sosial lainnya dari desa.
Iis menjelaskan bahwa tidak ada warga di Kampung Ciuncal, khususnya RT 01, yang berprofesi sebagai pengupas bawang. Menurutnya, Susanah bekerja membuat kain majun pada pagi hari dan mencuci ompreng di salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada siang hingga sore hari. Sementara Didim bekerja serabutan, termasuk menjadi kuli bangunan dan menerima pekerjaan memperbaiki rumah warga.
Fakta tentang Pekerjaan Susanah
Mesin jahit di rumah Susanah, menurut Yuyum, merupakan pemberian pengusaha kain majun. Warga lain di sekitar rumah juga terlihat menyimpan kain majun. Iis menjelaskan bahwa pekerjaan tersebut dilakukan secara rumahan. Pengusaha dari luar wilayah mengirim bahan ke sejumlah rumah warga untuk dikerjakan, kemudian mengambil kembali hasilnya dan menghitung upah berdasarkan pekerjaan.
Garis polisi di rumah Susanah dipasang beberapa hari sebelum Senin (17/8/2026), saat Susanah dan Didim masih berada di Jakarta. Menurut Iis, pemasangan garis polisi ini dilakukan karena banyaknya awak media yang datang ke rumah Susanah. Salah satu pertimbangan adalah kondisi psikologis anak-anak Susanah.
“Takutnya, khawatirnya mungkin jiwa anak-anaknya belum siap dengan kondisi yang tiba-tiba orang tuanya viral,” kata Iis.
Iis menambahkan bahwa wartawan yang hendak meliput Susanah diminta berkoordinasi dengan perangkat lingkungan setempat. Ia juga menyebut pihak pemerintah, termasuk Kementerian Sosial (Kemensos), pernah mengambil gambar kondisi keluarga Susanah tanpa terlebih dahulu berkoordinasi dengan perangkat setempat.
Penjelasan Keluarga tentang Pekerjaan Susanah
Fakta Susanah, bukan pengupas bawang, tapi buruh jahit. Nama Susanah, warga Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menjadi perbincangan setelah sosoknya diperkenalkan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI. Susanah, perempuan berusia 38 tahun, disebut sebagai warga Bogor yang bekerja sebagai pengupas bawang dengan penghasilan mencapai Rp700 ribu untuk setiap kilogram. Pernyataan tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial.
Sejumlah warganet bahkan melontarkan komentar negatif kepada Susanah karena menganggap angka upah tersebut tidak masuk akal. Namun, keluarga Susanah kemudian memberikan klarifikasi mengenai pekerjaan dan penghasilan sebenarnya. Anak Susanah menyebut sang ibu justru terkejut ketika mengetahui dirinya diperkenalkan sebagai pengupas bawang.
Menurut keluarga, pekerjaan utama Susanah adalah menjahit kain lap atau lap majun. Upah yang diterima dari pekerjaan tersebut juga jauh berbeda dari angka yang beredar. Susanah disebut hanya memperoleh Rp700 per kilogram, bukan Rp700 ribu. Dalam sehari, Susanah mampu menjahit sekitar 20 kilogram kain lap. Jika dihitung berdasarkan jumlah tersebut, pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan menjahit hanya sekitar Rp14 ribu per hari.
Selain menjahit, Susanah juga memiliki pekerjaan lain sebagai petugas ompreng program Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu SPPG di wilayah Bojong. Keluarga Susanah berharap penjelasan tersebut dapat meluruskan informasi yang beredar sekaligus menghentikan komentar negatif yang telanjur ditujukan kepada Susanah.
Klarifikasi Keluarga dan Respons Istana
Akun yang diduga merupakan anak Susanah menyebut bahwa pekerjaan sang ibu bukanlah mengupas bawang. Susanah disebut bekerja sebagai penjahit kain lap. Salah satu warganet sempat menulis komentar:
“Dibayar brpa sih Bu, sampe mau diajak bohong,” kata netizen.
Akun yang mengaku sebagai anak Susanah kemudian memberikan respons. “Sorry ka itu ibu saya, beliau juga kaget pas dibilang pengupas bawang, beliau juga sudah klarif pekerjaan sebenarnya,” kata diduga anak Susanah. Ia kemudian kembali menjelaskan pekerjaan sang ibu. “mmh saya kerjanya jahit ka bukan kupas bawang,” sambungnya.
Klarifikasi tersebut muncul setelah Susanah ramai menjadi pembicaraan akibat pernyataan mengenai nominal upah Rp700 ribu per kilogram. Selain menjelaskan pekerjaan sang ibu, akun yang diduga anak Susanah juga memberikan keterangan mengenai undangan yang diterima Susanah. Seorang warganet mempertanyakan alasan Susanah bisa mendapat undangan untuk menghadiri acara tersebut.
“Yg jadi pertanyaan saya, atas dasar apa susanah diundang di acara tsb,” tanya netizen. Akun yang mengaku sebagai anak Susanah menjawab bahwa sang ibu sendiri tidak menyangka akan mendapatkan undangan tersebut. “Sorry ka itu ibu saya, beliau juga kaget karena dapat undangan untuk hadir ke sana,” jawab akun mengaku anak Susanah.
Keluarga menyebut Susanah awalnya menerima undangan tersebut karena menganggapnya sebagai sebuah rezeki. “Pikiran mamah saya memang rezeki kebetulan diundang ke sana, makanya mamah saya menerima undangan itu,” ungkap akun diduga anak Susanah. Namun setelah pernyataan mengenai pekerjaan dan penghasilannya menjadi viral, Susanah justru mendapatkan banyak komentar negatif dari warganet.
Klarifikasi mengenai pekerjaan Susanah juga disampaikan oleh kakak iparnya, Wina. Ia menegaskan bahwa Susanah bukan pekerja pengupas bawang dengan bayaran Rp700 ribu per kilogram seperti informasi yang sebelumnya beredar. Menurut Wina, pekerjaan utama Susanah adalah menjahit kain lap majun. Dari pekerjaan tersebut, Susanah memperoleh upah Rp700 untuk setiap kilogram kain lap yang berhasil dijahit.
Dalam sehari, jumlah kain lap yang mampu dikerjakan Susanah sekitar 20 kilogram. Dengan perhitungan tersebut, penghasilan dari pekerjaan menjahit mencapai sekitar Rp14 ribu dalam sehari. “Itu tidak benar (gajinya Rp700 ribu perkilogram bawang). Ibu Susanah itu bekerja di MBG dan juga penjahit lap majun dengan harga Rp700 perkilo. Itu tidak benar kalau dia bekerja mengupas bawang dengan harga Rp700 ribu perkilo,” ujar Wina saat didatangi TribunnewsBogor.com ke rumahnya, Minggu (16/8/2026).
Respons Istana
Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi pasang badan mengenai Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut upah untuk mengupas bawang adalah sebesar Rp 700.000 per kilogram. Hasan mengajak masyarakat untuk fokus pada substansi dari pidato Prabowo saja. “Kita pikirkan substansi dari pidato besar Presiden ya. Yang satu kalimat, dua kalimat digoreng itu saya rasa kita harus apa? Belajar untuk tidak terfokus. Itu algoritma juga itu,” ujar Hasan di Istana, Jakarta, Senin (17/8/2026).
Hasan menjelaskan, alangkah baiknya masyarakat melihat gagasan besar dari pidato Prabowo. “Satu kalimat, dua kalimat, tapi pikirkan substansi besar dan gagasan besar dari pidato presiden. Sebaiknya seperti itu,” imbuhnya.
Sementara itu, sebelumnya Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi sebelumnya mengatakan Istana akan mengecek kembali data mengenai upah pengupas bawang Rp700 ribu per kilogram yang disebut Prabowo. “Nanti kita cek ya,” ujar Prasetyo di Istana Negara, Jakarta, Sabtu (15/8/2026).




Tinggalkan Balasan