Peran Keluarga dalam Pembentukan Atlet Muda
Soekarno Cup 2026 menjadi ajang penting bagi talenta muda dari 16 provinsi di Indonesia. Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah Gema Farand Pratama, seorang pemain sepak bola dari Banteng Jawa Timur. Dukungan penuh dari sang ibu, Fitri, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan karier Gema sejak kecil.
Sejak usia 5 tahun atau saat masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK), Fitri konsisten mendampingi Gema dalam berlatih sepak bola. Ia tidak hanya mengawasi latihan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai seperti disiplin, sportivitas, dan pantang menyerah. Pengorbanan Fitri bukan sekadar waktu atau tenaga, melainkan kesediaannya untuk bersama suami menemani Gema dalam setiap proses pembelajaran.
“Pengorbanan terbesar bagi saya adalah ketika saya, papanya, dan Gema bisa melewati dan menikmati prosesnya hingga saat ini,” ujar Fitri. Perkataannya menggambarkan betapa pentingnya dukungan keluarga dalam membangun seorang atlet muda.
Fitri selalu berusaha hadir dalam setiap latihan Gema sejak ia meminta masuk Sekolah Sepak Bola (SSB) pada usia 5 tahun. Dukungan tersebut terus berlanjut hingga kini, termasuk saat Gema tampil dalam Soekarno Cup 2026 sebagai bagian dari tim Banteng Jawa Timur.
Baginya, menemani anak berlatih bukan sekadar mengantar dan menunggu, tetapi menjadi bagian dari proses panjang untuk memahami perkembangan sang buah hati. Komunikasi juga menjadi salah satu hal penting dalam perjalanan Gema. Fitri mengajak Gema bercerita tentang aktivitasnya selama berlatih. Dari komunikasi tersebut, ia merasa semakin yakin bahwa Gema memiliki keinginan kuat untuk mengejar cita-citanya sebagai pemain sepak bola profesional.
“Saya berusaha mengajak agar Gema selalu bercerita tentang kegiatan selama mengikuti SSB,” ujarnya. Kebiasaan ini membantu Fitri mengikuti proses Gema sekaligus memberikan dukungan ketika sang anak menghadapi tantangan.
Dukungan kedua orang tua itu menjadi bagian penting dalam perjalanan Gema yang kini berkompetisi di Soekarno Cup 2026. Fitri tidak hanya berbicara soal prestasi di lapangan, tetapi juga karakter yang harus dimiliki Gema di luar pertandingan. Ia percaya kemampuan bermain sepak bola perlu berjalan beriringan dengan sikap rendah hati agar perjalanan menuju level profesional tidak membuat sang anak kehilangan nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil.
“Saya juga selalu mengingatkan Gema agar bersikap rendah hati (tidak sombong) dan menjaga attitude atau sikap dimana Gema berada baik di dalam lapangan maupun di luar,” kata Fitri. Pesan itu menjadi pengingat bagi Gema untuk tetap menjaga perilaku ketika bertanding maupun saat menjalani kehidupan sehari-hari.
Fitri juga menanamkan nilai-nilai seperti disiplin, sportivitas, pantang menyerah, serta keberanian untuk bangkit ketika menghadapi kegagalan. “Saya selalu menanamkan di diri Gema untuk disiplin, sportivitas, pantang menyerah, dan berani bangkit dari kegagalan serta belajar dari kesalahan untuk menjadi lebih baik,” tutur Fitri. Nilai tersebut menjadi bekal yang diharapkan membantu Gema menghadapi persaingan sekaligus menjaga mentalnya dalam proses panjang sebagai atlet.
Harapan Fitri untuk masa depan Gema adalah agar ia mampu menunjukkan karakter sebagai generasi muda Indonesia yang berintegritas, tangguh, dan mampu mengharumkan nama bangsa. Perjuangan Fitri dan keluarganya pun memperlihatkan jika mimpi menjadi pemain profesional tidak lahir dalam semalam. Di balik kesempatan Gema tampil dalam kompetisi usia muda, ada pendampingan sejak usia 5 tahun, komunikasi, dukungan tanpa lelah, serta nilai-nilai luhur yang terus ditanamkan untuk menghadapi setiap tantangan.









Tinggalkan Balasan