JAKARTA, Wartabrita.com – Pakar hukum tata negara Feri Amsari menolak tantangan debat dari pegawai Bulog yang kembali muncul terkait polemik data stok beras dan kebijakan pangan nasional. Feri menegaskan dirinya tidak ingin rakyat saling berhadapan akibat persoalan yang menurutnya muncul dari kebijakan pimpinan.
Feri mengatakan kritik yang selama ini ia sampaikan mengenai persoalan pangan seharusnya mendapat jawaban dari pihak yang memiliki kewenangan mengambil kebijakan. Ia secara khusus meminta Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman bertanggung jawab atas kebijakan pangan yang menjadi sorotannya.
Feri menilai debat antara dirinya dan pegawai Bulog tidak akan menyelesaikan persoalan utama. Menurutnya, perdebatan tersebut justru berpotensi memicu konflik yang tidak perlu di antara masyarakat.
“Untuk tantangan pegawai Bulog yang tak bisa bedakan pangan dan beras, saya tidak akan respons. Saya tidak mau rakyat diadu dengan rakyat,” ujar Feri melalui akun X pribadinya, @feriamsari, seperti dikutip pada Kamis (13/8/2026).
Feri Amsari Menolak Tantangan Pegawai Bulog Pampangan dan Rawang Timur
Pegawai Bulog Pampangan dan Rawang Timur di Padang, Sumatra Barat, kembali mengajukan tantangan debat kepada Feri. Mereka menyampaikan tantangan tersebut melalui video yang diterima pada Selasa (18/8/2026).
Feri kembali menolak tantangan tersebut dengan alasan yang sama. Ia tidak ingin polemik kebijakan pangan berubah menjadi konflik antara dirinya dan para pegawai Bulog di lapangan.
Feri menegaskan kritiknya terhadap persoalan pangan nasional menyasar pihak yang membuat dan bertanggung jawab atas kebijakan, bukan pegawai Bulog maupun jajaran lain di lapangan.
“Minta mereka (pegawai Bulog) membaca UU Pangan dulu. Sikap kami jelas tidak melayani pegawai pertanian dan Bulog karena yang alpa adalah kebijakan atasannya. Saya tidak mau rakyat diadu dengan rakyat,” katanya saat dihubungi dari Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa malam.
Feri juga meminta Amran Sulaiman bertanggung jawab atas kebijakan pangan yang menurutnya bermasalah.
“Kalau pimpinannya bertanggungjawab dengan pernyataannya, ayo biarkan menterinya memenuhi tanggungjawabnya.”
Ketika wartawan menanyakan dugaan penggunaan anak buah untuk merespons kritik masyarakat, termasuk kritik Feri, ia memilih tidak berspekulasi. Feri berharap dugaan tersebut tidak benar.
“Mudah-mudahan tidak (Amran menggunakan anak buah untuk merespons kritik). Saya tidak berasumsi kemudian,” pungkasnya.
Awal Mula Pegawai Bulog Menantang Feri Amsari
Sebelumnya, dua pegawai Bulog, Ahmad Mukromin dan Anto, mengajukan tantangan terbuka kepada Feri Amsari. Mereka merespons kritik Feri mengenai data ketersediaan pangan Indonesia.
Ahmad menyebut Bulog menguasai stok beras sebanyak 5,25 juta ton. Menurutnya, Bulog menyimpan stok tersebut di lebih dari 1.500 kompleks pergudangan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
“Di sini saya ingin menyampaikan bahwa stok yang ada di Bulog saat ini sebanyak 5,25 juta ton yang tersebar di lebih daripada 1.500 kompleks pergudangan di seluruh Indonesia. Tidak hanya itu saja, Bulog juga telah menyewa gudang dari pihak lain,” kata Ahmad.
Ahmad kemudian meminta Feri melihat langsung kondisi stok beras yang tersimpan di gudang Bulog. Ia juga mengatakan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) turut mengaudit proses penyerapan gabah.
Ahmad kemudian menyatakan kesiapannya untuk berdebat dengan Feri mengenai data pangan nasional.
“Saya siap berdiskusi dengan Anda. Karena Bulog yang lebih tahu dan lebih paham mengenai pengadaan gabah beras di lapangan. Saya tunggu FA (Feri Amsari),” kata Ahmad.
Pegawai Bulog Kembali Tantang Feri soal Stok Beras
Pegawai Bulog Pampangan dan Rawang Timur di Padang, Sumatra Barat, kemudian mengajukan tantangan debat kedua. Mereka menegaskan bahwa pemerintah mencatat stok beras sekitar 5,2 juta ton secara benar dan dapat mempertanggungjawabkan data tersebut.
Pegawai Bulog Pampangan mengatakan pihaknya ingin meluruskan informasi mengenai stok beras tersebut.
“Kami dari Bulog Pampangan ingin meluruskan informasi tentang stok beras 5,2 juta ton itu betul dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya dalam video yang diterima.
Ia mengatakan Bulog dan Kementerian Pertanian (Kementan) membuka ruang diskusi seluas-luasnya untuk Feri. Menurutnya, masyarakat tetap dapat menyampaikan kritik kepada pemerintah maupun Bulog selama mereka mendasarkan kritik tersebut pada data dan fakta lapangan.
“Kami pun menghargai kritik dan perbedaan pendapat. Tapi alangkah baiknya kritik itu disampaikan berdasarkan data dan fakta lapangan melalui musyawarah secara langsung dalam ruang diskusi yang sehat,” katanya.
Ia berharap masyarakat tidak hanya membahas perbedaan pandangan mengenai stok beras melalui media sosial atau podcast. Ia mengajak Feri dan pihak terkait duduk bersama untuk mencari solusi bagi masyarakat.
“Berbeda pendapat boleh, tapi alangkah baiknya kalau kita bisa duduk bersama sambil berdiskusi, memecahkan masalah dan niat mencari solusi untuk masyarakat,” lanjutnya.
Sementara itu, pegawai Bulog Rawang Timur juga menegaskan kebenaran data stok beras 5,2 juta ton. Ia menyebut gudang Bulog Rawang Timur saat ini menyimpan sekitar 2.100 ton beras.
“Stok 5,2 juta ton yang ada di Bulog itu benar adanya dan bisa kami pertanggungjawabkan. Kenyataannya, stok yang ada di gudang Bulog Rawang Timur sekarang ada sebanyak lebih kurang 2.100 ton,” ujarnya.
Pegawai tersebut mengatakan pihaknya dapat membuktikan data itu melalui fakta dan dokumen. Ia juga menyebut Kementerian Pertanian telah dua kali mengundang Feri untuk mengikuti diskusi terbuka.
“Kami membuka forum diskusi sebesar-besarnya bersama Uda Feri. Kapan saja kalau Uda bisa dan mau datang, kami selalu siap,” katanya.









Tinggalkan Balasan