Wartabrita.com.CO.ID – JAKARTA.Beberapa ekonom menyoroti kepentingan penguatan kedaulatan ekonomi negara di tengah ketidakstabilan geopolitik global. Penguatan ini dinilai penting dilakukan melalui proses industrialisasi, kedaulatan data, penguatan sektor industri pertahanan, serta pengembangan ekonomi digital.
Isu tersebut muncul dalam Forum Ekonomi Soemitro II yang diselenggarakan oleh Indonesia Roundtable of Young Economists (IN.RY) di Hotel Majapahit Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Forum ini mengupas kembali relevansi gagasan Soemitro Djojohadikusumo terhadap tantangan ekonomi yang ada saat ini.
Forum tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperingati 25 tahun wafatnya Soemitro, seorang ekonom yang dikenal sebagai guru bangsa dan tokoh yang sepanjang hidupnya berjuang memperkuat kedaulatan ekonomi nasional serta kesejahteraan rakyat.
Sebagai tokoh ekonomi ternama Indonesia, pendapat Soemitro dianggap masih relevan dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang terjadi saat ini. Di forum tersebut, para ekonom membahas berbagai topik mulai dari perubahan dalam rantai pasok global, kemandirian ekonomi, hingga tantangan yang muncul akibat globalisasi.
Forum dibuka oleh A.M. Hendropriyono yang menganggap konsep Soemitronomics mampu menjadi jalur bagi Indonesia menuju kemandirian industri nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global, krisis energi, serta perpecahan ekonomi dunia.
“Inti dari pemikirannya adalah menciptakan kapitalisme nasional yang berpihak pada kepentingan bangsa, dengan negara bertindak sebagai pengarah, pelindung, dan pendorong munculnya kekuatan ekonomi nasional,” katanya dalam keterangan resmi, Minggu (14/3/2026).
Menurutnya, membangun kapitalisme nasional memerlukan langkah-langkah strategis yang nyata, seperti pengolahan penuh sumber daya alam, menciptakan konglomerat nasional berbasis produksi, mendorong kapitalis nasional yang kuat dan efisien, memperkuat peran negara sebagai perancang ekonomi, mengembangkan industrialisasi yang berbasis ekspor, serta mendorong perubahan dalam pendidikan teknologi dan industri.
“Ekonomi Soemitron bukan hanya sekadar teori ekonomi, tetapi strategi pemberdayaan bangsa. Dalam kerangka ini, negara berfungsi sebagai pengarah, sektor swasta nasional sebagai pelaku utama dalam produksi, dan sumber daya alam Indonesia menjadi dasar dari proses industrialisasi,” katanya.
Kepala Eksekutif PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) M. Fankar Umran menambahkan bahwa Soemitro pernah menyatakan bahwa Indonesia harus menjadi sebuah bangsa produsen yang mampu merancang, memproses, mengelola, serta memberikan pendanaan untuk kebutuhan nasionalnya sendiri.
Ia juga menyoroti konflik yang tengah berlangsung antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang berpotensi mengganggu rantai pasok global.
“Pada situasi ini, Indonesia memiliki kesempatan untuk mengembangkan manufaktur, logistik, dan investasi baru yang didasarkan pada investasi langsung asing, bukan hanya investasi portofolio. Ini adalah kesempatan bagi proses reformasi dalam negeri berjalan,” katanya.
Fankar menilai Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin dalam ekonomi hijau dan industri mineral penting, khususnya berkat potensi sumber daya alam yang besar dalam pengembangan ekosistem baterai dan kendaraan listrik.
“Di tengah situasi global saat ini, kita juga harus memperkuat sektor pertahanan serta pengembangan digital,” tambahnya.
Bila dikaitkan dengan pemikiran Soemitro, Fankar menyoroti beberapa poin penting. Pertama, pembangunan perlu menghasilkan kemandirian ekonomi, bukan hanya berfokus pada angka pertumbuhan yang hanya dirasakan oleh sebagian kecil masyarakat.
Kedua, negara harus berperan penting dalam memandu perubahan struktural melalui strategi industri yang jelas, bukan hanya mengikuti arus global.
Ketiga, Indonesia perlu mempertahankan keseimbangan antara pengembangan sektor pertanian dan industri agar dapat mencapai kesejahteraan bagi masyarakat. Keempat, investasi harus mampu memberikan transfer teknologi serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.
Di sisi lain, Dekan Fakultas Teknik dan Sains Terapan Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) Kun Wardana menyoroti tiga topik utama yang akan membentuk sistem dunia yang baru, yaitu geopolitik, tarif perdagangan, dan kedaulatan data.
Menurutnya, dunia saat ini sedang mengalami perubahan besar yang diakibatkan oleh tiga hal utama: pengurangan ketergantungan pada dolar, konflik energi, dan persaingan teknologi.
“Siapa pun yang menang dalam tiga hal ini akan menentukan tatanan dunia yang baru. Papan catur global sedang mengalami perubahan,” katanya.
Kun juga menekankan pentingnya kekuasaan data bagi Indonesia dalam era ekonomi digital.
“Data merupakan emas atau minyak abad ini. Dengan 280 juta penduduk yang terus menghasilkan data, negara yang memiliki jumlah data terbesar, kemampuan komputasi terkuat, dan algoritma paling canggih akan menjadi yang paling unggul,” katanya.
Di sisi lain, Nehenia Lawalata menyampaikan bahwa Soemitronomics tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga berakar pada ideologi dan pergerakan masyarakat.
“Ekonomi Semitronik lahir dari pemikiran yang inovatif mengenai Indonesia. Ini adalah gerakan pemberdayaan ekonomi berbasis pergerakan rakyat,” katanya.
Ia menganggap perekonomian Indonesia memiliki ciri khas karena sektor modern dan tradisional saling berdampingan, tetapi keduanya belum sepenuhnya mandiri. Oleh karena itu, peran pemerintah diperlukan untuk memberikan arahan dan bimbingan dalam proses pembangunan ekonomi.
Anggota DPR RI dari Partai Gerakan Indonesia Raya, yang juga merupakan cucu Soemitro, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, menganggap pemikiran kakeknya masih cocok dalam situasi perubahan global saat ini.
Menurutnya, dunia sedang mengalami proses “pengaturan ulang” yang memerlukan diskusi ekonomi yang terbuka dan menyeluruh.
“Salah satu hal yang saya ingat dari Opa Tjum adalah diskusi tersebut sehat. Perbedaan pendapat itu baik,” katanya.
Sara juga menyoroti pertumbuhan ekonomi digital yang kini mulai berkembang dari daerah pedesaan.
“Perdagangan elektronik yang dahulu berpusat di kota mulai menunjukkan transaksi yang justru terjadi di desa,” katanya.
Di sisi lain, Ketua Umum Forum Ekonomi 2026 Soemitro, Leonardo A. Putong, menekankan bahwa warisan pemikiran Soemitro perlu terus dikembangkan dan diimplementasikan dalam kebijakan nyata.
“Warisan pemikiran ini merupakan bagian dari DNA perjuangan ekonomi Indonesia dan tidak boleh dimanipulasi demi kepentingan pribadi atau keuntungan jangka pendek,” tuturnya.









Tinggalkan Balasan