JAKARTA, Wartabrita.com – J-36 China terlihat lebih radikal. Pesawat eksperimental itu meniadakan seluruh ekor vertikal, menggunakan badan berbentuk delta ganda, dan terlihat ditenagai tiga mesin. Namun, dalam urusan kemampuan siluman yang benar-benar dapat dibuktikan, F-22 Raptor Amerika Serikat masih unggul jauh.
F-22 telah melewati pengujian, produksi, pemeliharaan, dan operasi selama bertahun-tahun. Sebaliknya, nama J-36 bahkan belum diumumkan secara resmi oleh Beijing. Hampir seluruh penilaian mengenai kemampuannya masih disimpulkan dari foto, video, dan perubahan bentuk antarketika menjalani penerbangan uji.
Karena itu, desain yang tampak lebih futuristis tidak otomatis membuat J-36 lebih sulit dideteksi radar. Hingga kini belum tersedia data terbuka mengenai radar cross-section, material penyerap radar, emisi elektronik, ataupun jejak inframerah pesawat tersebut.
Penampakan terbaru J-36 kembali memperlihatkan penyempurnaan pada saluran masuk udara dan profil aerodinamikanya. Dalam laporannya, Defence Security Asia menyatakan perubahan itu berpotensi meningkatkan karakteristik low observable dan pengelolaan aliran udara. Namun, media tersebut juga tidak menyajikan data teknis resmi dari pemerintah atau industri penerbangan China.
Dengan demikian, kesimpulan paling presisi saat ini adalah J-36 menawarkan pendekatan siluman yang lebih radikal secara bentuk, sedangkan F-22 masih memiliki kemampuan siluman yang lebih dapat dipercaya sebagai sebuah sistem tempur utuh.
J-36 Lebih Radikal
Perbedaan visual terbesar kedua pesawat berada pada bagian ekor. J-36 sama sekali tidak memiliki sirip ekor vertikal. F-22 masih menggunakan dua ekor vertikal berukuran besar yang dipasang miring.
Menghilangkan ekor vertikal berpotensi mengurangi sejumlah permukaan yang dapat memantulkan energi radar dari sudut tertentu. Bentuk tanpa ekor juga memungkinkan perancang membuat garis-garis badan pesawat lebih selaras sehingga pantulan radar dapat diarahkan menjauh dari sumbernya.
Reuters melaporkan dua pesawat baru China yang muncul pada akhir Desember 2024 sama-sama menggunakan konfigurasi tanpa ekor dan menunjukkan karakteristik yang diarahkan untuk mengurangi kemungkinan terdeteksi radar. Namun, pakar yang diwawancarai Reuters menegaskan bahwa foto dari luar tidak cukup untuk menentukan kemampuan siluman, kelincahan, kecepatan, ataupun kecanggihan avioniknya.
Analis senior Australian Strategic Policy Institute Euan Graham menilai bentuk baru tersebut setidaknya menunjukkan keberanian industri penerbangan China melakukan eksperimen.
“Apa pun kelebihan atau kekurangannya, ini tampak sebagai desain yang sangat orisinal,” kata Graham sebagaimana diberitakan Reuters pada Jumat, 27 Desember 2024.
F-22 mengambil pendekatan berbeda. Dua sirip ekornya memang menambah bidang yang perlu dikelola agar tidak menghasilkan pantulan radar kuat. Namun, ekor tersebut memberi pesawat kestabilan dan kemampuan mengendalikan gerakan menyamping, terutama saat terbang pada sudut serang tinggi.
Pada J-36, tugas tersebut harus ditangani oleh perangkat lunak kendali penerbangan, bidang kendali pada bagian belakang sayap, serta kemungkinan bantuan pengarah daya dorong mesin. Dengan kata lain, keuntungan geometris dari hilangnya ekor harus dibayar dengan sistem kendali yang jauh lebih kompleks.
Komentator militer China Song Zhongping mengatakan kombinasi bidang kendali pada sayap dan sistem kendali penerbangan dapat mempertahankan kelincahan pesawat tanpa ekor.
“Pemrograman kendali penerbangan China pastilah sudah berada pada tingkat terdepan dunia,” kata Song sebagaimana diberitakan South China Morning Post pada Senin, 21 April 2025.
Pernyataan Song merupakan penilaian mengenai kemampuan pengendalian pesawat. Hal itu bukan bukti bahwa jejak radar J-36 lebih kecil daripada F-22.
Tiga Mesin Membawa Tenaga sekaligus Masalah Baru
J-36 terlihat menggunakan konfigurasi tiga mesin, berbeda dengan F-22 yang ditenagai dua mesin Pratt & Whitney F119. Dua mesin J-36 diperkirakan menerima udara dari saluran masuk di sisi atau bagian bawah badan, sedangkan mesin ketiga memperoleh udara melalui saluran masuk di punggung pesawat.
Konfigurasi itu dapat menyediakan daya dorong, pasokan listrik, dan kapasitas angkut yang besar. Hal tersebut sesuai dengan bentuk J-36 yang diperkirakan menyediakan ruang internal luas untuk bahan bakar, sensor, perangkat peperangan elektronik, serta persenjataan jarak jauh.
Akan tetapi, tiga mesin juga menciptakan tantangan. Para insinyur harus mengelola tiga saluran masuk udara, tiga sistem pembuangan, bobot tambahan, konsumsi bahan bakar, serta panas yang berpotensi dideteksi sensor inframerah lawan.
Mantan kepala perancang konfigurasi YF-23 dan Presiden ForzAero, Darold Cummings, mempertanyakan penggunaan saluran masuk udara di bagian atas badan J-36.
“Saluran masuk udara bagian atas ini benar-benar hanya bekerja hingga sudut serang sekitar 10 derajat,” kata Cummings sebagaimana diberitakan Aviation Week & Space Technology pada Senin, 13 Januari 2025.
Menurut Cummings, konfigurasi tersebut membuat pesawat Chengdu itu lebih menyerupai pesawat pengebom-serang sekelas F-111 daripada pesawat tempur ringan yang mengutamakan pertempuran jarak dekat. Penilaian itu memperkuat dugaan bahwa prioritas J-36 adalah jangkauan, muatan, dan kemampuan serangan jarak jauh, bukan semata-mata kelincahan.
Pada F-22, dua mesin dan saluran udaranya telah dirancang sebagai bagian dari sistem low observable yang matang. Persenjataannya dibawa di dalam badan, sementara mesin F119 memungkinkan pesawat melaju supersonik tanpa terus menggunakan afterburner atau pembakaran lanjut.
Angkatan Udara AS menyatakan kombinasi reduced observability, avionik terintegrasi, dan supercruise memperkecil peluang sistem pertahanan lawan melacak serta menyerang F-22. Pesawat tersebut juga memadukan desain aerodinamis, kendali penerbangan maju, dan thrust vectoring untuk mempertahankan kemampuan manuver.
Medan Pertarungan Siluman
Salah satu bagian paling kritis pada pesawat siluman adalah saluran masuk udara. Muka kompresor mesin dapat menghasilkan pantulan radar yang kuat apabila terlihat langsung dari arah depan.
Dalam laman analisis yang bertanggal Jumat, 4 Juli 2025, Janes menilai bentuk saluran udara samping J-36 kemungkinan dibuat berkelok untuk membantu menyembunyikan bagian mesin dari gelombang radar. Janes juga menilai ukuran, kokpit berdampingan, serta ruang internalnya mengarah pada peran pesawat tempur-pengebom jarak jauh.
Namun, keberadaan mesin ketiga menambah tingkat kesulitan. Saluran udara di punggung pesawat harus tetap menyediakan aliran yang stabil ketika pesawat bermanuver, sekaligus tidak menciptakan pantulan radar dan hambatan aerodinamika berlebihan.
F-22 tidak menghadapi persoalan saluran masuk mesin ketiga. Desainnya telah melewati proses pengujian dan penyempurnaan sejak program Advanced Tactical Fighter dimulai pada dekade 1980-an. Evaluasi operasional awal F-22 diselesaikan pada 2004 dan produksi penuh disetujui pada 2005.
Perbedaan tersebut sangat penting. J-36 sedang menguji apakah konsepnya dapat bekerja. F-22 telah membuktikan bahwa konsepnya dapat diproduksi, dirawat, dan digunakan secara operasional.
Nosel Baru J-36 Ungkap Kompromi di Bagian Belakang
Prototipe awal J-36 terlihat menggunakan sistem pembuangan mesin yang ditempatkan di dalam ceruk pada bagian atas-belakang badan. Susunan itu diperkirakan membantu menyamarkan nosel dari radar dan sensor inframerah yang berada di bawah atau di belakang pesawat.
Namun, prototipe berikutnya menunjukkan perubahan besar. South China Morning Post pada Ahad, 2 November 2025, melaporkan nosel bersudut menggantikan sistem pembuangan yang sebelumnya lebih tersembunyi. Bentuknya dinilai menyerupai nosel thrust vectoring dua dimensi milik F-22.
Perubahan tersebut dapat membantu kestabilan dan kemampuan manuver pesawat tanpa ekor. Akan tetapi, nosel yang lebih terbuka juga berpotensi menciptakan kompromi pada kemampuan menyamarkan jejak radar dan panas dari arah belakang.
Belum tersedia informasi terbuka mengenai bahan nosel, sistem pendinginan, pencampuran gas buang, atau suhu mesin J-36. Karena itu, tidak dapat disimpulkan bahwa perubahan tersebut pasti memperburuk kemampuan silumannya. Yang dapat dikatakan adalah insinyur Chengdu tampaknya masih mencari keseimbangan antara kelincahan, kestabilan, efisiensi, dan low observability.
F-22 juga bukan pesawat yang sepenuhnya tidak terlihat dari belakang. Dua mesin bertenaga besar tetap menghasilkan panas, sedangkan nosel thrust vectoring menciptakan struktur yang dapat diamati. Namun, bentuk dan sistem F-22 telah diuji serta disempurnakan selama puluhan tahun.
F-22 Unggul pada Bagian yang Tidak Terlihat Kamera
Kemampuan siluman tidak hanya ditentukan oleh bentuk luar. Ia merupakan gabungan dari geometri pesawat, material penyerap radar, kualitas sambungan panel, lapisan kanopi, ruang senjata internal, pengelolaan panas, disiplin emisi elektronik, sensor pasif, peperangan elektronik, dan pola operasi.
Di sinilah perbandingan berdasarkan foto menjadi sangat terbatas. Dunia luar belum mengetahui jenis material penyerap radar J-36, kualitas proses produksinya, akurasi sambungan panel, kemampuan peperangan elektronik, maupun daya tahan lapisannya setelah pesawat menjalani penerbangan berulang kali.
Pada F-22, Amerika Serikat telah membangun ekosistem pemeliharaan low observable selama bertahun-tahun. Sistem radar, komunikasi, sensor, peperangan elektronik, persenjataan, dan struktur pesawat dipelihara sebagai satu kesatuan untuk mempertahankan efektivitasnya.
F-22 juga tidak sekadar mengandalkan bentuk badan untuk menghindari radar. Pesawat itu menggabungkan kemampuan siluman dengan supercruise dan avionik terintegrasi sehingga dapat memperkecil waktu yang dimiliki lawan untuk mendeteksi, mengunci, dan meluncurkan senjata.
Meski demikian, radar cross-section F-22 juga tetap dirahasiakan. Klaim di internet yang menyamakan pantulannya dengan kelereng, bola baja, atau benda berukuran tertentu tidak dapat dijadikan dasar perbandingan jurnalistik. Nilai radar cross-section berubah berdasarkan frekuensi radar, arah datang gelombang, sudut pesawat, kondisi permukaan, dan konfigurasi senjatanya.
Pentagon: J-36 Masih pada Tahap Awal
Pentagon memberikan batas penting terhadap klaim-klaim mengenai J-36. Dalam laporan tahunan mengenai perkembangan militer China yang diterbitkan Selasa, 23 Desember 2025, Departemen Pertahanan AS menyatakan dua perusahaan China telah melaksanakan penerbangan awal dua prototipe pesawat generasi keenam pada Desember 2024.
Pentagon menilai program tersebut masih berada pada tahap awal pengembangan dan diperkirakan baru mencapai kemampuan operasional sekitar 2035. Pesawat itu kelak diperkirakan dapat menjalankan misi udara-ke-udara, udara-ke-permukaan, serta memandu pesawat nirawak dalam operasi tempur.
Penilaian tersebut tidak menunjukkan J-36 gagal atau tertinggal. Munculnya sejumlah prototipe dengan perubahan desain justru memperlihatkan program pengujian berlangsung aktif.
Namun, penerbangan prototipe belum membuktikan bahwa mesin, sensor, perangkat lunak, lapisan penyerap radar, sistem senjata, dan jaringan komunikasinya telah mencapai kesiapan perang.
Jadi, Mana yang Lebih Siluman?
Apabila perbandingan hanya didasarkan pada bentuk luar, J-36 menampilkan pendekatan yang lebih berani. Hilangnya ekor vertikal, badan lebar berbentuk delta, senjata internal, dan penyelarasan permukaannya berpotensi mengurangi pantulan radar dari sejumlah sudut.
Namun, desain tanpa ekor tidak cukup untuk membuktikan kemampuan siluman segala arah. J-36 harus mengatasi tantangan dari tiga mesin, saluran udara punggung, sistem pembuangan, pengelolaan panas, sambungan panel, dan emisi elektronik.
F-22 mempertahankan dua sirip ekor, tetapi memiliki keunggulan pada kematangan sistem. Amerika Serikat telah menunjukkan bahwa Raptor dapat memadukan reduced observability, supercruise, avionik, sensor, persenjataan internal, dan kelincahan dalam satu platform operasional.
Belum ada data radar cross-section yang memungkinkan perbandingan objektif antara keduanya. Karena itu, belum terdapat dasar terbuka untuk menyebut J-36 lebih siluman daripada F-22.
Kesimpulan paling akurat adalah desain tanpa ekor dapat memberi J-36 keuntungan geometris dari sejumlah arah. Namun, F-22 masih unggul dalam kematangan teknologi, integrasi sistem, pengalaman pengujian, serta pemeliharaan karakteristik low observable.
J-36 adalah potensi teknologi yang sangat serius. F-22 merupakan sistem tempur siluman yang telah matang. China mungkin telah memperlihatkan bentuk masa depan, tetapi belum menunjukkan bukti bahwa bentuk tersebut mampu menghilang dari radar lebih baik daripada Raptor.









Tinggalkan Balasan