Wali Kota Bandung Berencana Ubah Pasar Baru Jadi Pusat Kuliner Dunia
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memiliki rencana untuk mengubah Pasar Baru menjadi pusat kuliner dunia. Namun, rencana ini masih dalam bentuk wacana dan telah memicu berbagai tanggapan dari kalangan pengamat tata kota.
Pengamat Tata Kota dari Institut Teknologi Bandung, Frans Ari Prasetyo, memberikan pandangannya terkait rencana tersebut. Menurutnya, rencana yang disampaikan oleh Pemkot Bandung dinilai sebagai kebijakan prematur meskipun hanya sebatas usulan yang begitu bombastis. Ia menilai bahwa Pasar Baru sudah menjadi salah satu domain multikulturalisme masyarakat internasional, karena di sana berkumpul masyarakat dari Tionghoa, India, Cina, hingga Malaysia dan Singapura. Secara sejarah, kawasan ini sudah melekat dengan budaya yang kaya.
Frans menyebutkan bahwa menjadikan Pasar Baru sebagai sentra kuliner dunia terlalu hiperbola. Ia menyoroti bahwa perkembangan Pasar Baru sejak 1970-an terbilang stagnan. Meskipun tidak ada perubahan signifikan, kawasan ini tetap menjadi pusat perdagangan tekstil atau pakaian/fesyen.
Namun, ia menilai bahwa Pemkot Bandung belum fokus pada pengembangan infrastruktur dan integrasi kawasan multikultural yang sudah ada. Ia menyarankan agar Pemkot Bandung lebih memperhatikan pengembangan kawasan yang sudah ada daripada membuat proyek-proyek besar yang bisa saja gagal.
Kritik Terhadap Rencana Pengembangan Pasar Baru
Frans juga mengingatkan Pemkot Bandung untuk tidak mengulang kesalahan wali kota sebelumnya, Ridwan Kamil, yang pernah menciptakan kawasan kuliner Kampung Korea atau Korea Town. Menurutnya, kawasan-kawasan seperti itu sering kali tidak bertahan lama dan justru dibubarkan.
Ia menilai bahwa kawasan Pasar Baru dan sekitarnya secara organik sudah menjadi kawasan kebudayaan termasuk kawasan kuliner. Pemkot Bandung cukup mengembangkan kawasan tersebut karena ekosistemnya sudah tersedia bersama kawasan Pecinan dan Cibadak.
Saran Pengembangan yang Lebih Realistis
Frans menyarankan agar Pemkot Bandung melibatkan masyarakat sekitar dalam pengembangan kawasan. Contohnya, masyarakat India dapat diberi kesempatan untuk membuat Little India. Di Singapura, ada kawasan Little India yang bisa menjadi contoh. Bahkan, jika ingin studi banding lebih dekat, Yogyakarta memiliki distrik khusus yang memproduksi bakpia.
Ia menyarankan agar Pemkot Bandung mengembangkan wilayah Pecinan atau Cibadak melalui event yang tidak sekedar temporal. Dengan merangkul kawasan tersebut menjadi satu distrik, Pemkot Bandung bisa menciptakan destinasi wisata yang lebih berkelanjutan.
Pentingnya Pendekatan Bertahap
Frans menegaskan bahwa Pemkot Bandung tidak boleh terburu-buru dalam melakukan proyek-proyek besar. Ia mencontohkan era Ridwan Kamil dengan kebijakan Teras Cihampelas. Saat ini, kondisi Teras Cihampelas tidak seperti yang diharapkan karena kurangnya partisipasi masyarakat sekitar.
Menurutnya, Pasar Baru akan tetap terkenal dengan image tujuan pariwisata bisnis karena sudah terbentuk ekosistemnya. Ia menekankan agar Wali Kota Bandung tidak terlalu ambisius dalam mengerjakan hal-hal yang bombastis, tetapi lebih fokus pada sejarah dan eksisting yang sudah ada.
Dengan demikian, rencana pengembangan Pasar Baru harus dilakukan dengan pendekatan yang realistis dan berkelanjutan. Jika tidak, rencana tersebut bisa berujung pada proyek yang mangkrak dan tidak memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan ekonomi lokal.




Tinggalkan Balasan