Wartabrita.com, PEKANBARU– Bisnis biro perjalanan wisata di Provinsi Riau menghadapi tantangan sepanjang 2026. Daya beli masyarakat dan tingginya biaya perjalanan membuat permintaan, terutama untuk perjalanan dengan biaya besar, cenderung melambat.
Meski begitu, Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Riau masih melihat peluang pertumbuhan bisnis travel hingga akhir tahun.
Ketua ASITA Riau, Dede Firmansyah, mengatakan kondisi pasar saat ini memang lebih menantang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, ia belum bisa menyebut adanya penurunan dalam angka persentase tertentu.
“Transaksi biro perjalanan tersebar di banyak perusahaan dan belum seluruhnya terhimpun dalam satu sistem data, untuk angka keseluruhan Riau. Maka dari itu, ASITA tidak ingin mengklaim satu angka persentase yang seolah-olah merupakan statistik resmi,” kata Dede, Minggu (13/9/2026).
Dikatakan Dede, berdasarkan pemantauan terhadap anggota ASITA Riau, kondisi yang terjadi saat ini lebih tepat disebut sebagai perlambatan permintaan, terutama pada perjalanan wisata dengan biaya relatif tinggi.
Segmen perjalanan internasional menjadi salah satu yang cukup sensitif. Biaya tiket pesawat, hotel, visa, transportasi hingga kebutuhan selama berada di destinasi membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam menentukan perjalanan.
Hal serupa terjadi pada perjalanan keluarga dengan jumlah anggota yang banyak karena total biaya yang harus dikeluarkan menjadi lebih besar. Sementara perjalanan domestik dengan durasi pendek dan paket ekonomis dinilai masih memiliki peluang yang cukup baik.
“Untuk kondisi sekarang, wisata domestik mempunyai peluang yang cukup besar karena biaya perjalanan bisa lebih dikontrol. Masyarakat bisa memilih destinasi yang lebih dekat dan lama perjalanan yang lebih pendek,” jelasnya.
Meski perjalanan luar negeri lebih sensitif terhadap harga, Dede mengatakan pasar tersebut tetap ada, terutama ketika tersedia tiket promo atau paket perjalanan yang kompetitif.
“Jadi bukan berarti masyarakat meninggalkan perjalanan luar negeri, tetapi mereka semakin sensitif terhadap total biaya perjalanan,” katanya.
Kondisi tersebut juga dirasakan pada perjalanan religi, khususnya umrah. Tingginya biaya perjalanan membuat sebagian masyarakat memilih menabung lebih lama atau menunggu waktu yang dianggap tepat untuk berangkat.
Namun, menurut Dede, perjalanan umrah memiliki karakter berbeda dengan wisata biasa karena berkaitan dengan kebutuhan ibadah.
“Umrah bukan semata-mata perjalanan wisata, tetapi ibadah, sehingga demand-nya tetap ada,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, tantangan biro perjalanan adalah menjaga keseimbangan antara harga paket yang dapat dijangkau masyarakat dengan biaya operasional yang terus meningkat.
Harga tiket pesawat, hotel, transportasi, operasional perusahaan hingga nilai tukar untuk perjalanan luar negeri menjadi sejumlah komponen yang memengaruhi harga paket perjalanan.
“Di sisi lain, konsumen menginginkan harga murah tetapi pelayanan tetap maksimal. Ini yang menjadi tantangan bagi biro perjalanan wisata anggota ASITA,” kata Dede.
Untuk Riau, harga tiket pesawat menjadi salah satu faktor penting karena perjalanan masyarakat menuju berbagai destinasi banyak mengandalkan transportasi udara. Ketika harga tiket meningkat, harga paket perjalanan juga ikut terdorong naik.
Selain harga tiket, daya beli masyarakat, kondisi ekonomi, harga hotel dan transportasi di destinasi hingga konektivitas penerbangan turut menentukan perkembangan bisnis travel.
“Karena itu ASITA terus mendorong penguatan konektivitas udara dari Riau, karena akses transportasi sangat menentukan daya saing pariwisata,” katanya.
Kendati demikian, meski pasar menghadapi perlambatan, Dede tetap melihat peluang pertumbuhan bisnis biro perjalanan hingga penghujung 2026. “Kami masih optimistis. Kami melihat sampai akhir 2026 masih ada peluang pertumbuhan, tetapi pertumbuhannya tidak bisa hanya mengandalkan pola bisnis lama,” tegasnya.
Menurut Dede, biro perjalanan perlu melakukan diversifikasi produk, memperkuat pemasaran digital, menyediakan paket yang lebih fleksibel serta memperluas pasar ke luar daerah dan mancanegara.
Kerja sama dengan hotel, maskapai, pengelola destinasi dan pemerintah daerah juga perlu diperkuat agar biro perjalanan memiliki lebih banyak pilihan produk yang dapat ditawarkan kepada konsumen.
Ia menilai Riau memiliki modal untuk mengembangkan bisnis perjalanan wisata, mulai dari kekayaan budaya, wisata alam, kuliner hingga berbagai event daerah yang memiliki daya tarik bagi wisatawan.
Salah satunya Pacu Jalur yang menurutnya memiliki potensi untuk terus dikembangkan sebagai daya tarik wisata Riau. Kedekatan geografis Riau dengan Malaysia dan Singapura juga menjadi peluang untuk menarik lebih banyak wisatawan dari kawasan tersebut.
“Jadi saya melihat 2026 bukan tahun untuk menunggu pasar pulih, tetapi tahun untuk melakukan transformasi bisnis travel,” tutup Dede. (Wartabrita.com/Alexander)




Tinggalkan Balasan