Ringkasan Berita:
- Mantan pebasket Denny Sumargo mengungkap kolesterol tinggi serta penurunan fungsi hati dan ginjal.
- Kolesterol LDL tinggi dapat memicu plak pembuluh darah dan mengganggu aliran darah ke ginjal.
- Meski rajin berolahraga, kolesterol dipengaruhi genetik, pola makan, dan penyakit tertentu.
- Jaga pola makan, kendalikan tekanan darah, dan periksa kolesterol serta fungsi ginjal secara berkala.
Wartabrita.com, JAKARTA – Kolesterol tinggi tidak selalu ditandai dengan keluhan fisik. Seseorang yang rutin berolahraga dan terlihat bugar pun tetap berisiko mengalami gangguan kadar lemak darah, terutama jika memiliki faktor risiko genetik, pola makan tertentu, atau kondisi medis yang mendasari.
Hal ini dialami presenter sekaligus aktor Denny Sumargo. Ua mengungkapkan kondisi kesehatannya yang belakangan menurun. Hasil pemeriksaan medis yang dijalaninya menunjukkan kadar kolesterol dan lemak dalam darah tinggi, disertai penurunan fungsi hati dan ginjal.
Denny bukan sosok yang asing dengan dunia olahraga. Sebelum dikenal sebagai presenter dan aktor, pria berusia 45 tahun tersebut mengawali perjalanan kariernya sebagai pebasket profesional di Indonesia. Ia pernah memperkuat sejumlah klub basket profesional dan dikenal memiliki latar belakang atletik.
Pengalaman panjang di dunia olahraga membuat Denny identik dengan gaya hidup aktif dan kebugaran fisik. Namun, kondisi kesehatan yang baru diungkapkannya menjadi pengingat bahwa aktivitas fisik saja tidak selalu menjamin seluruh indikator kesehatan berada dalam batas normal.
Denny mengaku menjalani medical check-up setelah merasa kondisi tubuhnya kurang fit selama beberapa hari terakhir.
“Kesehatan saya menurun, kemarin saya habis medical check-up karena selama beberapa hari kondisi saya enggak fit,” kata Denny Sumargo di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Ia kemudian mengungkapkan bahwa hasil pemeriksaan darahnya menunjukkan sejumlah kondisi yang perlu mendapat perhatian.
“Aku pas cek kondisi darah aku tuh enggak bagus, banyak kolesterol, banyak lemak kolesterol, fungsi hatiku menurun, terus fungsi ginjalku juga ada menurun,” ujarnya.
Selain pemeriksaan darah, Denny mengaku menjalani pemindaian magnetic resonance imaging (MRI) pada bagian kepala karena mengalami migrain yang tidak kunjung mereda.
Menurut penuturannya, dokter memperingatkan adanya risiko masalah kesehatan serius, termasuk serangan jantung dan penyumbatan pembuluh darah di kepala. Ia kemudian mendapat obat yang harus dikonsumsi pada pagi dan malam hari selama satu bulan sebelum menjalani pemeriksaan ulang.
Pengalaman tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai hubungan kolesterol tinggi dengan kesehatan ginjal, terutama ketika seseorang terbiasa berolahraga dan menjaga kebugaran.
Kolesterol Tinggi Bisa Memengaruhi Fungsi Ginjal?
Kolesterol merupakan zat lemak yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk membran sel, memproduksi hormon, dan menjalankan berbagai fungsi biologis.
Namun, kadar kolesterol yang tidak terkendali, khususnya kolesterol LDL atau low-density lipoprotein, dapat meningkatkan risiko penumpukan plak pada dinding pembuluh darah.
Proses penumpukan plak ini dikenal sebagai aterosklerosis. Seiring waktu, plak dapat membuat pembuluh darah menyempit dan menghambat aliran darah ke organ tubuh.
Ginjal merupakan salah satu organ yang membutuhkan pasokan darah secara terus-menerus agar dapat menyaring limbah metabolisme, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, serta membantu mengatur tekanan darah.
Jika pembuluh darah yang memasok ginjal mengalami penyempitan akibat aterosklerosis, aliran darah menuju organ tersebut dapat terganggu. Salah satu kondisi yang dapat terjadi adalah stenosis arteri renalis, yaitu penyempitan arteri yang membawa darah ke ginjal.
Mengutip penjelasan National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), aterosklerosis merupakan penyebab utama sebagian besar kasus stenosis arteri renalis. Kolesterol tinggi termasuk faktor risiko yang dapat berkontribusi terhadap gangguan pembuluh darah tersebut.
Meski demikian, kolesterol tinggi tidak otomatis menyebabkan kerusakan ginjal pada setiap orang. Risiko dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tekanan darah, diabetes, kebiasaan merokok, riwayat keluarga, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Dalam kasus Denny Sumargo, informasi yang tersedia belum cukup untuk memastikan penyebab penurunan fungsi ginjal yang dialaminya. Diperlukan hasil pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah kondisi tersebut berkaitan dengan gangguan pembuluh darah, penyakit lain, atau faktor yang berbeda.
Hubungan Kolesterol, Tekanan Darah, dan Penyakit Ginjal
Hubungan antara kolesterol tinggi dan kesehatan ginjal tidak selalu berlangsung secara langsung. Keduanya dapat berkaitan melalui gangguan metabolisme dan kerusakan pembuluh darah.
Kolesterol LDL yang tinggi dapat berkontribusi terhadap aterosklerosis. Sementara itu, tekanan darah tinggi yang berlangsung dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal dan mengganggu kemampuan organ tersebut dalam menyaring darah.
Diabetes juga menjadi faktor risiko penting karena kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah dan struktur penyaring ginjal.
Sebaliknya, orang yang mengalami penyakit ginjal kronis juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung dan pembuluh darah. Gangguan ginjal dapat disertai perubahan metabolisme lemak, tekanan darah, dan faktor lain yang memengaruhi kesehatan kardiovaskular.
Karena itu, kolesterol, tekanan darah, gula darah, dan fungsi ginjal perlu dinilai secara menyeluruh. Penanganan tidak cukup hanya berfokus pada satu hasil pemeriksaan laboratorium.
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala
Salah satu alasan kolesterol tinggi perlu diwaspadai adalah karena kondisi ini umumnya tidak menimbulkan gejala yang khas.
Seseorang dapat tetap merasa sehat, aktif bekerja, dan rutin berolahraga meskipun kadar kolesterol dalam darahnya berada di atas batas yang dianjurkan.
National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) menjelaskan bahwa kadar kolesterol tinggi umumnya diketahui melalui pemeriksaan darah, bukan berdasarkan gejala yang dirasakan.
Pemeriksaan profil lipid biasanya mencakup kolesterol total, LDL, HDL atau high-density lipoprotein, serta trigliserida. Hasilnya membantu dokter menilai kondisi lemak darah dan menentukan langkah penanganan yang sesuai.
Penilaian risiko juga tidak cukup hanya berdasarkan kolesterol total. Dokter akan mempertimbangkan usia, tekanan darah, kebiasaan merokok, diabetes, riwayat keluarga, dan faktor kesehatan lainnya.
Bagi orang dengan riwayat keluarga memiliki kolesterol tinggi atau penyakit jantung pada usia relatif muda, pemeriksaan dapat menjadi semakin penting. Kondisi genetik seperti hiperkolesterolemia familial, misalnya, dapat menyebabkan kadar LDL sangat tinggi meskipun seseorang telah menjalani pola hidup sehat.
Bagaimana Mengetahui Fungsi Ginjal Menurun?
Gangguan fungsi ginjal dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Akibatnya, seseorang mungkin tidak menyadari adanya masalah sampai menjalani pemeriksaan laboratorium.
Ketika gangguan semakin berat, sebagian orang dapat mengalami pembengkakan pada kaki atau pergelangan kaki, perubahan frekuensi buang air kecil, mudah lelah, mual, atau gangguan tidur. Namun, gejala tersebut tidak spesifik dan dapat disebabkan oleh berbagai kondisi lain.
Untuk menilai fungsi ginjal, dokter dapat merekomendasikan beberapa pemeriksaan berikut.
Kreatinin darah: mengukur kadar zat sisa metabolisme otot yang biasanya dibuang melalui ginjal.
Estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR): memperkirakan kemampuan ginjal menyaring darah berdasarkan kadar kreatinin dan faktor klinis tertentu.
Pemeriksaan albumin urine: mendeteksi kebocoran protein yang dapat menjadi tanda kerusakan ginjal.
Tekanan darah: membantu mengidentifikasi faktor risiko yang dapat memengaruhi kesehatan ginjal.
Hasil pemeriksaan tersebut perlu ditafsirkan bersama riwayat kesehatan dan kondisi klinis pasien. Satu hasil yang tidak normal belum tentu menandakan penyakit ginjal kronis.
Diagnosis penyakit ginjal kronis umumnya memerlukan bukti gangguan struktur atau fungsi ginjal yang berlangsung setidaknya selama tiga bulan. Dokter dapat menyarankan pemeriksaan ulang untuk mengetahui apakah perubahan tersebut bersifat sementara atau menetap.
Mengapa Mantan Atlet Tetap Bisa Mengalami Kolesterol Tinggi?
Olahraga teratur memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Aktivitas fisik dapat membantu menjaga berat badan, meningkatkan kebugaran jantung, memperbaiki sensitivitas insulin, serta mendukung pengendalian kadar lemak darah.
Namun, olahraga bukan satu-satunya faktor yang menentukan kadar kolesterol seseorang.
Faktor genetik dapat memengaruhi cara tubuh memproduksi dan memproses kolesterol. Selain itu, pola makan tinggi lemak jenuh, kebiasaan merokok, diabetes, hipotiroidisme, dan penggunaan obat tertentu juga dapat memengaruhi profil lipid.
Usia dan perubahan kondisi metabolisme juga dapat memengaruhi risiko kesehatan seseorang dari waktu ke waktu. Karena itu, riwayat pernah menjadi atlet atau terbiasa melakukan aktivitas fisik intensif tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari kolesterol tinggi.
Pada sebagian orang, olahraga yang rutin dapat membantu memperbaiki profil lemak darah, tetapi tidak selalu cukup untuk mengendalikan kadar LDL yang sangat tinggi atau kondisi yang dipengaruhi faktor genetik.
Hal ini bukan berarti olahraga tidak bermanfaat. Sebaliknya, aktivitas fisik tetap menjadi bagian penting dari pencegahan penyakit kardiovaskular, tetapi perlu disertai pola makan seimbang, pengendalian faktor risiko, dan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan.
Cara Menjaga Kolesterol dan Melindungi Kesehatan Ginjal
Upaya menjaga kadar kolesterol dan fungsi ginjal perlu dilakukan secara menyeluruh. Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain:
1. Mengatur pola makan
Perbanyak konsumsi sayur, buah, biji-bijian utuh, dan sumber protein yang sesuai kebutuhan. Batasi lemak jenuh, lemak trans, makanan tinggi garam, serta makanan ultra-proses yang dikonsumsi secara berlebihan.
Bagi orang yang sudah mengalami gangguan ginjal, pengaturan asupan protein, kalium, fosfor, dan cairan mungkin perlu disesuaikan dengan kondisi medis. Pembatasan tersebut sebaiknya dilakukan berdasarkan saran dokter atau ahli gizi.
2. Tetap aktif secara fisik
Lakukan aktivitas fisik secara teratur sesuai kemampuan. Bagi kebanyakan orang dewasa, aktivitas aerobik intensitas sedang sekitar 150 menit per minggu dapat menjadi sasaran umum, dengan penyesuaian berdasarkan kondisi kesehatan.
3. Mengendalikan tekanan darah dan gula darah
Tekanan darah tinggi dan diabetes merupakan faktor risiko utama penyakit ginjal. Pemeriksaan berkala serta pengendalian kedua kondisi tersebut dapat membantu menjaga kesehatan pembuluh darah dan ginjal.
4. Melakukan pemeriksaan kesehatan berkala
Pemeriksaan profil lipid, tekanan darah, gula darah, dan fungsi ginjal dapat membantu mendeteksi gangguan lebih awal. Jenis serta frekuensi pemeriksaan perlu disesuaikan dengan usia, riwayat keluarga, kondisi medis, dan faktor risiko masing-masing individu.
5. Mengikuti pengobatan sesuai anjuran dokter
Jika kolesterol tinggi memerlukan obat, dokter akan mempertimbangkan kadar kolesterol dan risiko kardiovaskular pasien. Obat tidak sebaiknya dihentikan atau diubah dosisnya tanpa berkonsultasi.
Orang yang memiliki gangguan fungsi ginjal juga perlu berkonsultasi sebelum menggunakan obat bebas atau suplemen tertentu karena sebagian produk dapat memengaruhi ginjal atau berinteraksi dengan obat yang sedang dikonsumsi.
Kebugaran Fisik Perlu Diimbangi Pemeriksaan Kesehatan
Pengalaman Denny Sumargo menjadi pengingat bahwa kebiasaan berolahraga dan penampilan fisik yang bugar tidak selalu menggambarkan seluruh kondisi organ tubuh.
Kolesterol tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan pembuluh darah, termasuk pembuluh darah yang memasok ginjal. Namun, penurunan fungsi ginjal memiliki beragam kemungkinan penyebab sehingga tidak dapat langsung dikaitkan dengan kadar kolesterol tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Pemeriksaan kesehatan berkala membantu mendeteksi faktor risiko sebelum menimbulkan komplikasi. Hal ini penting, termasuk bagi orang yang merasa sehat dan terbiasa menjalani aktivitas fisik.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan tidak hanya berkaitan dengan seberapa sering seseorang berolahraga, tetapi juga dengan kemampuan mengenali faktor risiko, memahami hasil pemeriksaan medis, dan menindaklanjutinya sesuai rekomendasi dokter.




Tinggalkan Balasan