JAKARTA — Industri pertahanan Turki kembali menunjukkan ekspansinya setelah perusahaan elektronik militer ASELSAN menandatangani kontrak senilai 523 juta euro dengan Presidensi Industri Pertahanan Turki (SSB) pada Senin (26/10/2026). Kesepakatan tersebut ditujukan untuk mengembangkan sistem pertahanan udara dan rudal generasi baru, sekaligus memperlihatkan kesinambungan investasi Ankara dalam membangun kemampuan persenjataan nasional.
Kontrak tersebut diumumkan ASELSAN melalui Kamuyu Aydınlatma Platformu (KAP), sistem keterbukaan informasi perusahaan publik Turki. Perusahaan belum mengungkapkan nama sistem yang akan dikembangkan, spesifikasi teknis, maupun jadwal penyelesaiannya sehingga kontrak itu masih merupakan komitmen pengembangan teknologi, bukan pengumuman bahwa persenjataan baru telah siap digunakan.
Kesepakatan terbaru itu menyusul kontrak ekspor senilai 442,5 juta dolar AS yang diumumkan ASELSAN pada Jumat (23/10/2026). Kontrak dengan pembeli internasional yang identitasnya tidak diumumkan tersebut mencakup penjualan radar, sistem penanggulangan pesawat nirawak, serta perangkat komando dan kendali.
Dua kontrak dalam waktu berdekatan itu memperlihatkan dua jalur pertumbuhan industri pertahanan Turki, yakni investasi pemerintah untuk pengembangan teknologi domestik dan perluasan penjualan ke pasar internasional. Perkembangan tersebut sekaligus mengundang perhatian terhadap bagaimana sebuah negara yang dahulu sangat bergantung pada persenjataan asing kini mampu menghasilkan berbagai sistem militer yang semakin diminati dunia.
Kebangkitan tersebut memiliki kaitan dengan kedudukan Turki sebagai salah satu kekuatan militer utama Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dalam kunjungannya ke Ankara pada November 2024 menegaskan Turki memiliki angkatan darat terbesar kedua dalam aliansi setelah Amerika Serikat, sebuah posisi yang kembali disebut NATO menjelang KTT Ankara pada Juli 2026.
Meski demikian, status tersebut tidak berarti Turki merupakan kekuatan militer terbesar kedua di dunia atau menempati urutan kedua NATO dalam seluruh ukuran kekuatan tempur. Besarnya jumlah personel harus dibedakan dari kemampuan teknologi, kualitas persenjataan, anggaran pertahanan, kekuatan udara dan laut, serta kapasitas operasi militer jarak jauh.
Embargo Amerika Mengubah Arah Industri Pertahanan
Kebangkitan industri pertahanan Turki tidak dapat dilepaskan dari pengalaman pahit menghadapi pembatasan pasokan persenjataan pada dekade 1970-an. Ketika Turki melakukan intervensi militer di Siprus pada 1974, negara tersebut menghadapi persoalan serius akibat ketergantungan terhadap peralatan militer yang dipasok negara-negara Barat.
Amerika Serikat kemudian memberlakukan embargo senjata terhadap Turki pada 1975 hingga 1978, yang membatasi akses Ankara terhadap sejumlah perlengkapan dan dukungan militer. Kebijakan itu mendorong kesadaran di lingkungan pemerintah dan militer Turki bahwa keanggotaan NATO tidak otomatis menjamin kelangsungan pasokan persenjataan ketika kepentingan politik sekutu berbeda.
Menurut kajian lembaga riset Jerman Stiftung Wissenschaft und Politik (SWP), embargo tersebut menjadi salah satu pemicu penting transformasi industri pertahanan Turki. Upaya membangun kemampuan produksi dalam negeri dimulai jauh sebelum pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdoğan dan berlangsung melalui berbagai tahapan kebijakan lintas pemerintahan.
Salah satu langkah terpenting adalah pembentukan ASELSAN pada 14 November 1975 untuk memenuhi kebutuhan komunikasi dan elektronika militer nasional. Kajian Akademi Ilmu Pengetahuan Turki mencatat perusahaan tersebut memulai kegiatannya dengan empat insinyur dan satu produk berlisensi, sebelum berkembang menjadi perusahaan pertahanan dengan kemampuan penelitian, rekayasa, dan produksi yang jauh lebih luas.
Pemerintah Turki selanjutnya memperkuat fondasi kelembagaan industri pertahanan melalui pembentukan badan pengembangan industri pertahanan pada 1985, yang kemudian berkembang menjadi struktur kelembagaan SSB saat ini. Lembaga tersebut berperan mengoordinasikan kebutuhan militer, pembiayaan proyek, pengadaan persenjataan, dan pengembangan industri nasional.
Pada tahap awal, industrialisasi dilakukan melalui pembelian lisensi, produksi bersama, dan penguasaan teknologi secara bertahap. Strategi itu memungkinkan perusahaan Turki memperoleh pengalaman manufaktur sebelum mengembangkan produk dengan desain dan sistem yang semakin banyak dikerjakan sendiri.
Dukungan Negara dan Munculnya Industri Nasional
Memasuki awal abad ke-21, kebijakan industri pertahanan Turki memperoleh dorongan lebih besar ketika pemerintah memperluas penggunaan produksi domestik dalam program modernisasi militernya. Pada masa pemerintahan Erdoğan, proyek-proyek pertahanan menjadi bagian penting strategi industri, pengembangan teknologi, dan upaya meningkatkan otonomi dalam pengadaan persenjataan.
Perubahan tersebut tidak hanya melibatkan satu perusahaan, melainkan ekosistem produsen dengan bidang keahlian berbeda. ASELSAN mengembangkan elektronika pertahanan dan radar, ROKETSAN bergerak dalam teknologi roket dan rudal, TUSAŞ mengembangkan pesawat, sementara HAVELSAN, STM, dan Baykar membangun kemampuan pada perangkat lunak, perkapalan, serta sistem nirawak.
Model pengembangan ini memungkinkan kebutuhan militer nasional diterjemahkan menjadi proyek industri yang melibatkan banyak perusahaan pemasok. Pemerintah bertindak sebagai pembeli sekaligus pengarah pengembangan teknologi, sedangkan perusahaan swasta dan lembaga penelitian memperluas kemampuan produksi serta inovasi.
Kepala SSB Haluk Görgün pada 18 Oktober 2026 mengungkapkan industri pertahanan dan kedirgantaraan Turki telah menandatangani kontrak baru senilai 15 miliar dolar AS sepanjang tahun berjalan. Ia memperkirakan nilai kontrak tersebut dapat mencapai 20 miliar dolar AS pada akhir tahun, meskipun target itu masih bergantung pada kesepakatan yang terealisasi.
Görgün juga menyebut kontraktor utama industri pertahanan telah bekerja sama dengan lebih dari 16 ribu perusahaan domestik selama tiga tahun terakhir. Nilai pesanan kepada perusahaan-perusahaan tersebut dilaporkan melampaui 20 miliar dolar AS, memperlihatkan berkembangnya rantai pasok industri di luar perusahaan produsen persenjataan utama.
Perluasan jaringan pemasok menjadi faktor penting karena pengembangan sebuah sistem senjata modern membutuhkan berbagai kemampuan teknologi secara bersamaan. Sistem pertahanan udara, misalnya, memerlukan integrasi radar, sensor, perangkat lunak, komunikasi, peluncur, dan komponen persenjataan yang harus dapat bekerja dalam satu arsitektur operasi.
Bayraktar Membuka Pintu Pasar Dunia
Perubahan industri pertahanan Turki mulai memperoleh perhatian internasional yang lebih luas melalui keberhasilan pengembangan dan ekspor pesawat nirawak. Bayraktar TB2 buatan Baykar menjadi salah satu produk yang memperkenalkan kemampuan industri Turki kepada negara-negara pembeli persenjataan.
Pesawat nirawak tersebut digunakan dalam berbagai konflik, termasuk di Suriah, Libya, Nagorno-Karabakh, dan Ukraina. Penggunaannya memberikan pengalaman operasional bagi produsen sekaligus meningkatkan perhatian internasional terhadap kombinasi kemampuan pengintaian dan serangan presisi yang ditawarkan sistem tersebut.
Keberhasilan penjualan drone kemudian membantu memperluas pasar bagi produk pertahanan Turki lainnya. Negara-negara pembeli tidak hanya mencari pesawat nirawak, tetapi juga membutuhkan sistem komunikasi, sensor, persenjataan, pelatihan operator, dan dukungan pemeliharaan.
SWP dalam kajiannya mengenai Turki sebagai eksportir persenjataan menilai harga yang kompetitif dan fleksibilitas kerja sama menjadi bagian dari daya tarik produk-produk pertahanan Ankara. Selain menawarkan persenjataan, produsen Turki juga memperluas hubungan dengan negara-negara di Afrika, Asia, Timur Tengah, dan sebagian anggota NATO di Eropa.
Perluasan pasar tersebut tercermin dalam pertumbuhan nilai ekspor industri pertahanan dan kedirgantaraan Turki sepanjang 2026. Berdasarkan data Majelis Eksportir Turki (TİM), nilai ekspor sektor tersebut mencapai 6,93 miliar dolar AS selama Januari hingga September 2026, meningkat 15,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dalam periode 12 bulan hingga September 2026, nilai ekspor pertahanan dan kedirgantaraan tercatat mencapai 10,94 miliar dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan kegiatan perdagangan industri, meskipun nilai ekspor yang telah terealisasi harus dibedakan dari kontrak yang baru ditandatangani ataupun pesanan yang masih menunggu penyelesaian produksi.
Dari Drone Menuju Pesawat Tempur dan Rudal
Setelah memperoleh pijakan internasional melalui drone, Turki memperluas ambisinya ke teknologi pertahanan yang lebih kompleks. Ankara mengembangkan pesawat tempur KAAN, sistem pertahanan udara berlapis, kapal perang, serta berbagai jenis rudal yang ditujukan untuk memperkuat kemampuan militernya.
Program KAAN menjadi simbol upaya Turki meningkatkan penguasaan teknologi kedirgantaraan karena pengembangan pesawat tempur generasi baru membutuhkan kemampuan aerodinamika, sensor, avionik, integrasi persenjataan, dan mesin berteknologi tinggi. Namun, pesawat tersebut masih berada dalam proses pengembangan sehingga belum dapat diperlakukan sebagai sistem tempur yang sudah diproduksi massal dan beroperasi penuh.
Indonesia menjadi salah satu mitra penting program tersebut setelah kedua negara menandatangani kesepakatan pengadaan 48 pesawat KAAN pada Juni 2025. Kesepakatan itu membuka peluang kerja sama industri dan keterlibatan kemampuan Indonesia dalam produksi, tetapi realisasi pengiriman masih bergantung pada keberhasilan pengembangan dan tahapan produksi pesawat.
Di bidang pertahanan udara, Ankara juga mengembangkan arsitektur sistem berlapis yang dikenal sebagai Çelik Kubbe atau Steel Dome. Program tersebut diarahkan untuk mengintegrasikan berbagai kemampuan pendeteksian, pengendalian, dan penanggulangan ancaman udara, termasuk pesawat nirawak, pesawat tempur, dan rudal.
Kontrak ASELSAN senilai 523 juta euro pada 26 Oktober menunjukkan berlanjutnya investasi dalam bidang pertahanan udara dan rudal yang menjadi prioritas Ankara. Namun, belum adanya rincian resmi membuat sistem baru dalam kontrak itu belum dapat dipastikan sebagai bagian tertentu dari Steel Dome ataupun dikaitkan dengan kemampuan teknis yang spesifik.
Mengapa Turki Memiliki Posisi Penting di NATO?
Besarnya angkatan darat Turki dalam NATO memiliki akar sejarah yang berbeda dengan kebangkitan industri pertahanannya dalam beberapa dekade terakhir. Sejak bergabung dengan NATO pada 1952, Turki mempertahankan angkatan bersenjata berjumlah besar karena kedudukan geografisnya yang strategis, kewajiban pertahanan aliansi, dan berbagai persoalan keamanan regional.
Wilayah Turki berada di persimpangan Eropa, Asia, Timur Tengah, dan kawasan Laut Hitam. Negara tersebut juga menguasai akses melalui Selat Bosporus dan Dardanella, dua jalur laut strategis yang menghubungkan Laut Hitam dengan Laut Mediterania.
Posisi geografis tersebut menjadikan Turki penting dalam perencanaan keamanan NATO, terutama terkait stabilitas Laut Hitam dan kawasan sekitarnya. Ankara juga terlibat dalam berbagai kegiatan dan operasi aliansi, termasuk misi keamanan di Kosovo serta kontribusi terhadap operasi NATO di kawasan lain.
Dalam kunjungannya ke Ankara pada November 2024, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyebut kemampuan pertahanan Turki sebagai kontribusi penting terhadap keamanan kolektif aliansi. NATO kembali menegaskan besarnya angkatan darat Turki dalam materi resmi menjelang KTT yang berlangsung di Ankara pada 7–8 Juli 2026.
Kedudukan tersebut memberikan konteks mengapa Ankara membutuhkan industri pertahanan yang mampu memasok persenjataan dan peralatan secara berkelanjutan. Angkatan bersenjata berjumlah besar memerlukan dukungan logistik, perawatan, amunisi, komunikasi, dan modernisasi yang tidak dapat sepenuhnya bergantung pada ketepatan pengiriman dari luar negeri.
Namun, kekuatan personel dan kemajuan industri pertahanan merupakan dua ukuran yang berbeda. Status Turki sebagai pemilik angkatan darat terbesar kedua NATO menunjukkan skala sumber daya militernya, sedangkan keberhasilan pengembangan teknologi harus dinilai berdasarkan kemampuan produksi, keandalan produk, dan penguasaan komponen strategis.
Kemandirian Teknologi Masih Menghadapi Hambatan
Di balik peningkatan kontrak dan ekspor, industri pertahanan Turki masih menghadapi sejumlah keterbatasan teknologi. Salah satu tantangan utama terletak pada pengembangan mesin pesawat tempur, manufaktur berpresisi tinggi, serta kemampuan membangun rantai pasok komponen canggih yang tidak bergantung pada sejumlah kecil pemasok.
Peneliti Aaron Stein dalam kajian Brookings Institution yang diterbitkan pada 30 Juni 2026 menjelaskan bahwa industri pertahanan Turki telah berkembang pesat, tetapi masih menghadapi hambatan dalam meningkatkan produksi teknologi maju. Tantangan terbesar tidak selalu terletak pada penciptaan prototipe, melainkan pada kemampuan mengubahnya menjadi produk yang tersertifikasi, teruji, dan dapat diproduksi dalam jumlah besar secara konsisten.
Ketergantungan pada teknologi asing masih terlihat dalam proyek pesawat tempur KAAN yang menggunakan mesin General Electric F110 asal Amerika Serikat pada tahap pengembangannya. Reuters pada Juni 2026 melaporkan Washington bergerak melanjutkan rencana penjualan mesin tersebut, memperlihatkan bahwa kerja sama teknologi dengan negara Barat tetap penting bagi pengembangan industri kedirgantaraan Ankara.
Hubungan pertahanan Turki dan Amerika Serikat juga pernah mengalami ketegangan serius setelah Ankara membeli sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia. Keputusan tersebut menyebabkan Turki dikeluarkan dari program pesawat tempur F-35 dan diikuti sanksi Amerika Serikat terhadap lembaga industri pertahanannya pada 2020.
Pengalaman itu kembali memperlihatkan dilema yang telah dihadapi Turki sejak embargo 1970-an, yakni kebutuhan mempertahankan akses terhadap teknologi sekutu sekaligus mengurangi ketergantungan strategis. Karena itu, kebijakan kemandirian industri pertahanan Ankara tidak dapat diartikan sebagai kemampuan memproduksi seluruh komponen militer tanpa keterlibatan pemasok asing.




Tinggalkan Balasan