JAKARTA — Sejumlah perusahaan pemasok industri pertahanan Rusia mulai memindahkan sebagian kegiatan manufaktur dan pengembangan teknologinya ke China di tengah perang berkepanjangan di Ukraina serta sanksi negara-negara Barat. Perubahan tersebut memperlihatkan semakin besarnya ketergantungan Moskow terhadap kapasitas industri Beijing untuk mempertahankan produksi persenjataan, sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai masa depan kemandirian teknologi militer Rusia.
Perkembangan itu terungkap dalam laporan investigasi lembaga penelitian Amerika Serikat, Center for Advanced Defense Studies (C4ADS), yang diterbitkan pada Kamis (22/10/2026). Laporan berjudul A Marriage of Convenience? The Promise and Pitfalls of Chinese-Russian Advanced Conventional Weapons Cooperation tersebut menemukan bahwa kerja sama pertahanan Rusia dan China telah berkembang melampaui perdagangan persenjataan, mencakup penggunaan fasilitas manufaktur, pertukaran teknologi, hingga penelitian dan pengembangan bersama.
Temuan tersebut mendapat perhatian baru setelah Direktorat Utama Intelijen Kementerian Pertahanan Ukraina (GUR) pada Senin (26/10/2026) mengungkap informasi mengenai 30 unit peralatan industri asing yang disebut digunakan perusahaan-perusahaan Rusia dalam rantai produksi rudal balistik dan komponen persenjataan. Peralatan tersebut mencakup mesin manufaktur buatan China yang menurut intelijen Ukraina digunakan di fasilitas produksi rudal strategis Rusia.
Dua perkembangan dalam waktu berdekatan itu memperlihatkan semakin pentingnya industri China bagi kemampuan Rusia mempertahankan kegiatan produksi militernya. Namun, bukti yang tersedia tidak menunjukkan bahwa seluruh industri persenjataan Rusia telah dipindahkan ke China, melainkan adanya perpindahan sebagian aktivitas manufaktur dan meningkatnya ketergantungan terhadap mesin, komponen, serta teknologi asing.
Perusahaan Mikroelektronika Rusia Mulai Berproduksi di China
Salah satu perusahaan yang menjadi perhatian dalam investigasi C4ADS adalah Element, kelompok usaha mikroelektronika Rusia yang memasok komponen bagi berbagai sektor industri, termasuk pertahanan. Menurut penelitian tersebut, Element mulai melakukan kegiatan perakitan cip di China pada 2024 setelah menghadapi pembatasan akses teknologi akibat sanksi Amerika Serikat.
Laporan yang juga diulas The Moscow Times pada 23 Oktober menyebut Element telah mendaftarkan sedikitnya empat anak perusahaan di China. Perusahaan tersebut bahkan dilaporkan mencari pengajar bahasa Mandarin bagi para karyawannya, sebuah langkah yang memperlihatkan upaya memperluas kegiatan bisnis dan operasional di negara tersebut.
Element termasuk perusahaan yang dikenai sanksi Amerika Serikat sejak 2022 karena keterkaitannya dengan industri Rusia. Kegiatan perakitan cip di China memberikan peluang bagi perusahaan itu untuk memanfaatkan jaringan pemasok dan kapasitas manufaktur yang lebih sulit diperoleh secara langsung dari negara-negara Barat.
Kerja sama tersebut juga mencakup penguasaan kekayaan intelektual dalam bidang elektronika daya. Berdasarkan temuan peneliti yang dikutip RBC-Ukraine, perusahaan yang berafiliasi dengan Element memperoleh hak kekayaan intelektual dari perusahaan China, Shijiazhuang Tonhe Electronics, pada April 2026.
Namun, C4ADS belum menemukan bukti yang cukup untuk memastikan fasilitas Element di China telah memproduksi semikonduktor dengan spesifikasi militer. Perbedaan tersebut penting karena kegiatan perakitan cip untuk kebutuhan industri umum tidak secara otomatis membuktikan produksi komponen persenjataan.
Meski demikian, keterlibatan perusahaan pemasok pertahanan Rusia dalam ekosistem manufaktur China menunjukkan arah perubahan yang semakin nyata. Perusahaan Rusia tidak lagi hanya mengandalkan impor komponen jadi, tetapi juga berupaya memperoleh akses terhadap fasilitas produksi dan kemampuan pengembangan teknologi di luar wilayahnya.
Pabrik Mesin Presisi Rusia Juga Melirik China
Perusahaan lain yang disorot adalah StankoMashStroy, produsen mesin industri Rusia yang memiliki hubungan bisnis dengan sejumlah perusahaan pertahanan. Pada 2023, perusahaan tersebut mengumumkan rencana membangun kegiatan produksi mesin perkakas di China melalui kerja sama dengan Baoji Machine Tool Group yang beroperasi di Provinsi Shaanxi.
Mesin perkakas berpresisi tinggi, termasuk yang menggunakan teknologi computer numerical control (CNC), merupakan salah satu peralatan penting dalam industri manufaktur modern. Teknologi tersebut memungkinkan pengerjaan komponen logam dengan tingkat ketelitian tinggi untuk berbagai kebutuhan, termasuk mesin industri, kendaraan militer, dan sistem persenjataan.
Menurut C4ADS, pemilik StankoMashStroy, Oleg Kochetkov, telah mendaftarkan perusahaan bernama Shaanxi Stermasi Technology di China. Akan tetapi, peneliti belum dapat memastikan bahwa rencana produksi bersama dengan Baoji Machine Tool Group sudah benar-benar memasuki tahap operasional.
StankoMashStroy menjadi perhatian karena memiliki pelanggan yang terhubung dengan industri pertahanan Rusia. Berdasarkan laporan RBC-Ukraine pada 24 Oktober, pelanggannya pada 2025 mencakup pabrik Votkinsk yang memproduksi rudal balistik dan Izhevsk Electromechanical Plant Kupol yang bergerak dalam pengembangan sistem pertahanan udara.
Perusahaan tersebut telah dikenai sanksi Amerika Serikat sejak 2023, sehingga aksesnya terhadap sejumlah teknologi dan pemasok internasional menghadapi pembatasan. Upaya memperluas hubungan manufaktur dengan China mencerminkan strategi mencari kapasitas industri alternatif di tengah tekanan tersebut.
Namun, rencana investasi dan pendaftaran perusahaan di China belum dapat disamakan dengan pemindahan pabrik yang sudah beroperasi penuh. Bukti yang tersedia menunjukkan adanya upaya memperluas kegiatan manufaktur, sementara tingkat realisasi setiap proyek masih berbeda.
Mesin Buatan China Teridentifikasi di Pabrik Rudal Kinzhal
Ketergantungan industri pertahanan Rusia terhadap teknologi asing juga menjadi sorotan setelah pengungkapan terbaru intelijen militer Ukraina pada 26 Oktober. Melalui portal War & Sanctions, GUR menerbitkan informasi mengenai 30 unit peralatan manufaktur asing yang menurut lembaga tersebut digunakan oleh perusahaan-perusahaan Rusia yang terkait dengan produksi rudal balistik.
Peralatan tersebut berasal dari China, Jerman, Taiwan, Amerika Serikat, Turki, Swiss, dan Italia. GUR secara khusus menyoroti meningkatnya penggunaan mesin perkakas dan pusat pemesinan buatan China, termasuk mesin dengan kemampuan pengerjaan presisi menggunakan lima sumbu.
Salah satu peralatan yang diidentifikasi adalah mesin GX-650 buatan perusahaan China, Hyper Machine Tool. Menurut basis data GUR, mesin tersebut digunakan di pabrik Votkinsk yang terlibat dalam produksi rudal balistik Iskander-M dan komponen rudal aeroballistik Kh-47M2 Kinzhal.
Intelijen Ukraina juga mengidentifikasi mesin bubut dan penggilingan buatan perusahaan China, Shtral, yang disebut digunakan di fasilitas Petrovsky Electromechanical Zavod Molot. Perusahaan Rusia tersebut diketahui terlibat dalam produksi komponen elektronik yang berkaitan dengan sistem rudal Iskander-M.
Menurut GUR, sebagian mesin industri buatan China juga masih menggunakan komponen teknologi dari negara lain, termasuk sistem kendali CNC, perangkat penggerak, dan komponen presisi asal Eropa, Jepang, serta Taiwan. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa rantai pasok teknologi yang digunakan industri Rusia tidak hanya berkaitan dengan China, tetapi juga terhubung dengan jaringan manufaktur internasional.
Meski demikian, pengungkapan GUR harus dipahami sebagai temuan intelijen Ukraina yang belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen. Dalam basis data publiknya, lembaga tersebut mencantumkan identitas mesin dan fasilitas pengguna, tetapi tidak membuka seluruh bukti teknis yang mendasari identifikasinya.
Temuan tersebut tetap memberikan gambaran mengenai tantangan Rusia dalam membangun substitusi impor teknologi secara menyeluruh. Upaya memperbesar produksi rudal domestik masih berjalan bersamaan dengan kebutuhan memperoleh mesin dan komponen industri berteknologi tinggi dari pemasok asing.
Ratusan Pengiriman Teknologi Menghubungkan Moskow dan Beijing
Kerja sama industri kedua negara juga terlihat dalam catatan perdagangan yang dianalisis C4ADS sepanjang 2010 hingga 2025. Peneliti mengidentifikasi 314 pengiriman yang melibatkan 52 pemasok Rusia dan 21 penerima di China, terutama dalam kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan teknologi persenjataan konvensional canggih.
Data tersebut memperlihatkan bahwa hubungan pertahanan Rusia dan China tidak hanya berupa perdagangan barang jadi. Sebagian transaksi berkaitan dengan material, komponen, teknologi manufaktur, kekayaan intelektual, serta kemampuan penelitian yang dapat mendukung pengembangan sistem persenjataan.
C4ADS menyoroti kerja sama yang melibatkan sejumlah perusahaan dan lembaga penelitian penting Rusia, termasuk biro desain kapal selam Rubin, NPO Splav, dan Central Aerohydrodynamic Institute atau TsAGI. Mitra dari pihak China mencakup perusahaan pertahanan yang terlibat dalam pengembangan teknologi kedirgantaraan, persenjataan, dan sistem militer lainnya.
Dalam kajian tersebut, kemampuan penelitian dan rekayasa Rusia dinilai menjadi salah satu sumber daya yang masih menarik bagi industri pertahanan China. Sebaliknya, Beijing memiliki skala manufaktur yang jauh lebih luas serta kemampuan menyediakan berbagai komponen, material, dan fasilitas teknologi.
Jumlah 314 pengiriman tersebut bukan merupakan angka pemindahan pabrik Rusia ataupun jumlah persenjataan yang diproduksi bersama. Angka tersebut menggambarkan jaringan transaksi dan pertukaran teknologi yang berhasil diidentifikasi peneliti dari catatan perdagangan selama periode pengamatan.
Sanksi Barat Mengubah Rantai Pasok Industri Rusia
Ketergantungan Rusia terhadap China meningkat setelah invasi besar-besaran ke Ukraina pada Februari 2022 memicu serangkaian sanksi ekonomi dan pembatasan ekspor teknologi dari Amerika Serikat, Uni Eropa, dan sejumlah negara sekutunya. Kebijakan tersebut membatasi akses langsung perusahaan Rusia terhadap semikonduktor, peralatan manufaktur presisi, komponen elektronik, serta teknologi dengan kegunaan sipil dan militer.
Pembatasan tersebut mendorong perusahaan Rusia mencari sumber pasokan alternatif untuk mempertahankan produksi. China kemudian memainkan peran semakin besar karena memiliki basis industri manufaktur yang luas serta hubungan dengan jaringan produksi komponen internasional.
Menurut laporan terbaru KSE Institute berjudul Official Trade Data May Understate Russia’s Imports of War-Critical Goods yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, China masih menjadi pemasok dominan barang prioritas tinggi yang diperlukan industri Rusia. Setelah memperhitungkan kemungkinan perdagangan yang tidak seluruhnya tercatat dalam statistik resmi, pangsa China diperkirakan mencapai sekitar 50 hingga 70 persen dari impor barang kategori tersebut, bergantung pada bulan pengamatan.
Angka tersebut memberikan gambaran lebih mutakhir dibandingkan statistik perdagangan yang dilaporkan sebelumnya, yang menunjukkan pangsa China melampaui 75 persen. KSE menjelaskan bahwa perbedaan angka tersebut berkaitan dengan penggunaan data transaksi impor untuk memperkirakan perdagangan yang mungkin tidak sepenuhnya tercermin dalam catatan ekspor resmi.
Kategori barang prioritas tinggi itu mencakup komponen elektronik, semikonduktor, perangkat komunikasi, dan berbagai teknologi yang berpotensi digunakan dalam pembuatan persenjataan. Namun, angka tersebut tidak dapat ditafsirkan sebagai persentase seluruh persenjataan Rusia yang diproduksi menggunakan komponen China.
KSE juga menemukan bahwa nilai perdagangan sejumlah kategori barang sensitif melalui Hong Kong berpotensi lebih besar daripada yang tercatat dalam statistik resmi. Temuan itu memperlihatkan tantangan dalam mengukur ketergantungan teknologi Rusia hanya berdasarkan data perdagangan yang dipublikasikan pemerintah.
China Menguasai Porsi Besar Impor Mesin Rusia
Perubahan hubungan perdagangan kedua negara juga dikonfirmasi oleh kajian Centre for Eastern Studies atau OSW di Polandia yang diterbitkan pada 31 Maret 2026. Lembaga tersebut memperkirakan China menyumbang sekitar 35 persen dari keseluruhan impor Rusia pada 2025, meningkat dari sekitar 25 persen pada 2021.
Dalam sejumlah kelompok mesin, peralatan industri, dan suku cadang, pangsa China bahkan meningkat hingga sekitar 90 persen. Angka itu menunjukkan besarnya pergeseran struktur perdagangan Rusia setelah banyak perusahaan Barat menghentikan kegiatan bisnis atau membatasi ekspor mereka ke negara tersebut.
OSW juga mencatat China menjadi mitra perdagangan terbesar Rusia, sementara hubungan ekonomi kedua negara menunjukkan ketimpangan yang semakin nyata. Pada 2025, China menyerap sekitar 30 persen ekspor Rusia, sedangkan perdagangan dengan Rusia hanya menyumbang bagian relatif kecil dalam keseluruhan perdagangan internasional China.
Perbedaan tingkat ketergantungan tersebut memberikan Beijing posisi tawar yang lebih besar dalam hubungan ekonomi bilateral. Moskow membutuhkan pasar dan kapasitas industri China, sementara Beijing memiliki pilihan mitra perdagangan yang jauh lebih beragam.
Namun, ketergantungan ekonomi tersebut tidak berarti China sepenuhnya menentukan keputusan militer atau kebijakan luar negeri Rusia. Pengaruh geopolitik Beijing terhadap Moskow harus dibedakan dari besarnya peran perusahaan China dalam penyediaan barang, mesin, dan teknologi industri.
Beijing Mendapat Teknologi, Rusia Memperoleh Kapasitas Produksi
Perubahan hubungan industri pertahanan kedua negara menjadi menarik karena pada masa setelah Perang Dingin, Rusia merupakan salah satu pemasok utama persenjataan modern bagi China. Beijing membeli berbagai sistem militer Rusia, termasuk pesawat tempur dan sistem pertahanan udara, untuk mempercepat modernisasi angkatan bersenjatanya.
Seiring berkembangnya kemampuan industri dalam negeri, China semakin mampu merancang dan memproduksi sistem persenjataan secara mandiri. Perubahan tersebut secara bertahap mengurangi ketergantungan Beijing terhadap pembelian persenjataan jadi dari Rusia.
C4ADS menilai kerja sama terbaru kedua negara memiliki karakter yang semakin tidak seimbang. Rusia masih menawarkan pengalaman rekayasa, penelitian, dan pengembangan teknologi persenjataan yang diwarisi dari era Uni Soviet, sedangkan China menyediakan kapasitas manufaktur, fasilitas industri, serta sumber daya untuk mengembangkan teknologi dalam skala besar.
Dalam perspektif jangka panjang, pertukaran tersebut dapat membuka peluang bagi perusahaan China mempercepat pengembangan produk pertahanannya sendiri. Kondisi ini juga berpotensi meningkatkan persaingan antara produsen persenjataan Rusia dan China di pasar internasional.
Namun, kedua negara tetap memperoleh manfaat dari kerja sama tersebut dan Rusia masih memiliki kemampuan teknologi penting pada sejumlah bidang. Karena itu, perubahan hubungan industri tidak dapat disederhanakan sebagai hilangnya seluruh keunggulan teknologi militer Moskow di hadapan Beijing.
China Bantah Memasok Senjata Mematikan
Pemerintah China selama ini menolak tuduhan bahwa Beijing menyediakan persenjataan mematikan untuk mendukung Rusia dalam perang Ukraina. Kementerian Luar Negeri China berulang kali menyatakan negaranya bukan pihak yang terlibat dalam konflik tersebut dan menerapkan pengendalian terhadap ekspor barang yang memiliki kegunaan ganda.
Dalam pernyataan resmi pada 18 Juni 2026, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menegaskan Beijing tidak memberikan senjata mematikan kepada kedua pihak yang berperang. Ia juga menyatakan pemerintah China menerapkan pengawasan ketat terhadap barang dengan kegunaan sipil dan militer serta mendukung penyelesaian konflik melalui perundingan.
Posisi serupa kembali disampaikan Kedutaan Besar China di Inggris pada 8 Oktober ketika London menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah entitas China yang dituduh memasok barang penting kepada Rusia. Beijing menolak sanksi sepihak tersebut dan menyatakan kegiatan perdagangan normal antara perusahaan China dan Rusia tidak seharusnya dihambat.
Pernyataan tersebut merupakan posisi resmi pemerintah China, bukan tanggapan khusus terhadap seluruh temuan terbaru C4ADS dan intelijen Ukraina. Pada saat yang sama, keberadaan komponen atau mesin buatan China dalam industri militer Rusia tidak otomatis membuktikan bahwa setiap transaksi tersebut dilakukan berdasarkan arahan langsung pemerintah Beijing.
C4ADS juga mencatat hubungan kedua negara memiliki batasan yang dipengaruhi kepentingan ekonomi China sendiri. Beijing dinilai tetap mempertimbangkan akses terhadap pasar, investasi, dan teknologi Barat ketika menentukan seberapa jauh kerja sama pertahanannya dengan Moskow dapat dikembangkan.
Industri Senjata Rusia Belum Berhenti Berkembang
Meningkatnya ketergantungan terhadap teknologi asing tidak berarti industri pertahanan Rusia telah kehilangan kemampuan produksi domestiknya. Kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang diterbitkan pada 14 Juli 2026 menunjukkan perusahaan-perusahaan pertahanan Rusia masih mampu memperbesar produksi sejumlah kategori persenjataan sejak invasi besar-besaran ke Ukraina.
Penelitian tersebut mengkaji perkembangan lima perusahaan pertahanan Rusia, termasuk Uralvagonzavod, Almaz-Antey, KRET, Kalashnikov, dan Ushkuynik. Hasilnya menunjukkan kebutuhan perang telah mendorong peningkatan produksi, pengembangan tenaga kerja khusus, serta penyesuaian rantai pasok perusahaan-perusahaan tersebut.
Namun, CSIS juga mengidentifikasi berbagai kendala yang masih dihadapi industri pertahanan Rusia, termasuk kekurangan tenaga kerja, biaya pengadaan komponen yang meningkat, persoalan tata kelola, dan ketergantungan terhadap teknologi impor. Hambatan tersebut tidak selalu menghentikan produksi, tetapi dapat meningkatkan biaya dan mempersulit pengembangan kemampuan industri dalam jangka panjang.
Rusia juga tetap berupaya memperbesar manufaktur di dalam negeri, termasuk melalui pengadaan teknologi dan lini produksi dari pemasok asing. Dengan demikian, hubungan dengan China tidak selalu berupa pemindahan kegiatan keluar Rusia, tetapi juga mencakup pembelian mesin dan kemampuan produksi untuk memperluas kapasitas pabrik domestik.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa industri pertahanan Rusia sedang menjalani dua proses bersamaan. Di satu sisi, sejumlah perusahaan memperluas kegiatan di China, sedangkan di sisi lain Moskow berupaya mempertahankan serta meningkatkan produksi persenjataan di wilayahnya sendiri.
Ketergantungan Baru yang Mengubah Posisi Moskow
Temuan C4ADS dan pengungkapan intelijen Ukraina memperlihatkan perubahan struktur hubungan industri pertahanan Rusia dan China ketika perang Ukraina terus berlangsung. Kerja sama tersebut semakin mencakup fasilitas manufaktur, komponen teknologi, mesin presisi, pertukaran pengetahuan, serta kegiatan penelitian yang berkaitan dengan persenjataan modern.
Bagi Moskow, akses terhadap industri China memberikan kesempatan mempertahankan kegiatan produksi meskipun negara-negara Barat membatasi ekspor teknologi. Namun, semakin terkonsentrasinya pasokan pada satu mitra juga menimbulkan kerentanan apabila kondisi perdagangan, hubungan diplomatik, atau kebijakan ekspor mengalami perubahan.
Bagi Beijing, hubungan tersebut membuka akses terhadap pengalaman pengembangan teknologi militer Rusia sekaligus memperluas peran perusahaan China dalam rantai pasok industri internasional. Meski demikian, kepentingan ekonomi dan hubungan China dengan negara-negara Barat dapat membatasi tingkat kerja sama yang bersedia ditempuh Beijing.
Hingga kini, belum terdapat bukti bahwa keseluruhan industri persenjataan Rusia sedang dipindahkan ke China. Yang semakin terlihat adalah perubahan pola ketergantungan Moskow, dari kebutuhan memperoleh komponen dan teknologi dari beragam pemasok internasional menjadi ketergantungan yang lebih besar pada kapasitas manufaktur serta jaringan perdagangan China.
Perubahan tersebut menjadi salah satu konsekuensi penting dari perang Ukraina dan sanksi ekonomi Barat terhadap industri pertahanan Rusia. Ketika Moskow berusaha mempertahankan produksi persenjataannya, Beijing memperoleh posisi yang semakin strategis dalam jaringan teknologi dan manufaktur yang menopang kemampuan militer Rusia.




Tinggalkan Balasan