Lewati ke konten

Home

About Us

Advertisement

Contact Us

  • Facebook
  • X
  • Instagram
  • Pinterest
  • WhatsApp
  • Feed RSS
  • TikTok
WartaBrita

WartaBrita

Info Update Terpercaya

  • Home nasional
  • Internasional
  • Sports
  • otomotif
  • Tekno
  • Muslim
  • Travculpedia
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Lifestyle
Search

Tumbuh tanpa keluarga utuh, 6 perilaku ini kerap terlihat pada anak korban perceraian

Avatar Dewa Saputra
Dewa Saputra
Selasa, 3 November 2026 – 12:05
Tumbuh tanpa keluarga utuh, 6 perilaku ini kerap terlihat pada anak korban perceraian

Wartabrita.com – Pengalaman masa kecil memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian seseorang ketika beranjak dewasa. Salah satunya adalah pengalaman tumbuh dalam keluarga dengan orang tua yang memutuskan untuk berpisah.

Perceraian bukan hanya mengubah kondisi keluarga, tetapi juga dapat memengaruhi cara anak memahami kasih sayang, membangun hubungan sosial, serta mengelola perasaan.

Sebagian anak mungkin terbiasa menjalani kehidupan secara mandiri. Ada pula yang menjadi lebih sensitif terhadap pertengkaran atau membutuhkan waktu lebih lama untuk mempercayai orang lain.

Pengalaman tersebut bisa memberikan pengaruh berbeda pada setiap individu, tergantung situasi keluarga, dukungan emosional, dan cara anak menghadapi perubahan yang terjadi.

Dilansir dari Geediting, terdapat enam perilaku yang kerap dikaitkan dengan anak-anak yang tumbuh bersama orang tua bercerai. Pola tersebut dapat terlihat ketika mereka memasuki usia dewasa dan mulai membangun hubungan dengan lingkungan sekitarnya.

Berikut enam perilaku yang menarik untuk diketahui.

1. Terbiasa Mandiri dan Mengandalkan Kemampuan Sendiri

Anak yang mengalami perpisahan orang tua terkadang harus belajar menghadapi berbagai situasi lebih cepat dibandingkan teman seusianya.

Misalnya, mereka perlu menyesuaikan diri ketika harus tinggal bergantian di dua rumah, mengikuti aturan keluarga yang berbeda, atau menghadapi perubahan rutinitas sehari-hari.

Situasi tersebut dapat membuat mereka terbiasa menyelesaikan berbagai persoalan tanpa selalu meminta bantuan orang lain.

Ketika dewasa, kebiasaan ini bisa terlihat melalui sikap mandiri, kemampuan mengambil keputusan sendiri, serta keberanian menghadapi tantangan.

Namun, kemandirian yang terlalu kuat terkadang membuat mereka kesulitan meminta pertolongan. Mereka mungkin merasa harus mampu menyelesaikan semuanya sendiri meskipun sebenarnya sedang membutuhkan dukungan.

2. Sering Menjadi Penengah dan Tidak Suka Melihat Pertengkaran

Menyaksikan konflik antara kedua orang tua dapat membuat anak lebih peka terhadap suasana di sekitarnya.

Mereka mungkin terbiasa memperhatikan perubahan sikap, nada bicara, atau ekspresi orang lain untuk mengetahui apakah sedang terjadi ketegangan.

Kebiasaan tersebut bisa terbawa hingga dewasa. Dalam hubungan pertemanan, pekerjaan, maupun percintaan, mereka cenderung berusaha menjaga suasana tetap nyaman.

Tidak jarang, mereka mengambil peran sebagai penengah ketika dua orang sedang berselisih.

Di satu sisi, kemampuan ini membuat mereka terlihat penuh perhatian dan pandai memahami orang lain. Namun, jika berlebihan, mereka bisa terlalu sering mengutamakan perasaan orang lain hingga mengabaikan kebutuhan diri sendiri.

3. Membutuhkan Waktu Lebih Lama untuk Mempercayai Orang Lain

Pengalaman menyaksikan hubungan orang tua berakhir dapat memengaruhi cara sebagian anak memandang komitmen dan hubungan jangka panjang.

Ketika dewasa, mereka mungkin lebih berhati-hati sebelum membuka diri kepada seseorang. Ada kekhawatiran bahwa hubungan yang sudah dibangun dengan baik suatu saat bisa berakhir atau ditinggalkan.

Akibatnya, mereka cenderung membutuhkan waktu untuk merasa aman dan yakin terhadap orang lain.

Dalam hubungan romantis, misalnya, mereka bisa kesulitan mengungkapkan perasaan secara terbuka atau terus mempertanyakan keseriusan pasangan.

Meski demikian, pengalaman perceraian tidak otomatis membuat seseorang sulit percaya. Hubungan yang sehat, komunikasi terbuka, dan pengalaman positif dapat membantu membangun rasa aman secara bertahap.

4. Lebih Cepat Beradaptasi Menghadapi Perubahan

Perubahan kondisi keluarga dapat mengajarkan anak untuk menghadapi berbagai situasi yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Mulai dari berpindah tempat tinggal, mengenal lingkungan keluarga baru, hingga menyesuaikan diri dengan kebiasaan berbeda dari masing-masing orang tua.

Pengalaman tersebut dapat membentuk kemampuan adaptasi yang cukup baik.

Ketika memasuki usia dewasa, mereka mungkin lebih mudah menghadapi perubahan pekerjaan, lingkungan sosial, maupun kondisi kehidupan yang tidak terduga.

Mereka juga cenderung terbiasa mencari cara untuk menyesuaikan diri ketika menghadapi situasi baru.

Akan tetapi, kemampuan beradaptasi ini tidak selalu berarti mereka merasa nyaman dengan perubahan. Ada kalanya mereka hanya terbiasa menyembunyikan ketidaknyamanan agar tetap bisa menjalani keadaan.

5. Terlalu Banyak Memikirkan Konflik Kecil

Anak yang sering menyaksikan pertengkaran orang tua mungkin tumbuh dengan kewaspadaan tinggi terhadap perubahan suasana.

Mereka bisa memperhatikan hal-hal sederhana, seperti perubahan intonasi suara, ekspresi wajah, atau cara seseorang memberikan respons dalam percakapan.

Ketika dewasa, kebiasaan tersebut terkadang membuat mereka terlalu jauh memikirkan suatu persoalan.

Perselisihan kecil bisa terasa lebih serius karena mereka khawatir masalah tersebut akan berkembang menjadi pertengkaran besar.

Bahkan, ketika seseorang terlihat sedikit berbeda dari biasanya, mereka mungkin langsung berpikir bahwa telah melakukan kesalahan.

Kondisi ini dapat membuat hubungan sosial terasa melelahkan karena pikiran terus dipenuhi berbagai kemungkinan yang belum tentu benar-benar terjadi.

Belajar berkomunikasi secara terbuka dan memahami bahwa perbedaan pendapat merupakan bagian normal dari hubungan dapat membantu mengurangi kebiasaan tersebut.

6. Memiliki Kepekaan dan Empati yang Tinggi

Pengalaman menghadapi perubahan emosional dalam keluarga juga dapat membuat sebagian anak lebih mudah memahami perasaan orang lain.

Sejak kecil, mereka mungkin terbiasa memperhatikan suasana hati orang tua, mengenali kesedihan, atau berusaha memberikan dukungan ketika situasi keluarga sedang tidak baik.

Kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi kemampuan berempati yang kuat ketika dewasa.

Mereka biasanya lebih mudah menyadari ketika seseorang sedang mengalami kesulitan, bahkan tanpa harus mendengar cerita secara langsung.

Tidak jarang, mereka menjadi teman yang bisa diandalkan karena mampu mendengarkan dan memberikan perhatian kepada orang lain.

Namun, penting untuk tetap menjaga keseimbangan. Memahami perasaan orang lain memang merupakan hal positif, tetapi bukan berarti seseorang harus selalu bertanggung jawab atas kebahagiaan semua orang.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Posts by wartabritaa

About Us

Wartabrita

Warta Brita adalah media digital independen yang hadir untuk menyajikan informasi aktual, faktual, dan terpercaya kepada masyarakat Indonesia. Kami percaya bahwa informasi yang jujur dan akurat adalah fondasi penting dalam membangun masyarakat yang sadar, kritis, dan cerdas.

Berdiri dengan semangat jurnalisme positif, kami berkomitmen menyuguhkan konten dari berbagai kategori seperti:

  • Berita Terkini
  • Nasional & Internasional
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Inspirasi & Viral

Warta Brita dikelola oleh tim muda yang profesional, berpikiran terbuka, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Kami memadukan kecepatan dalam menyajikan informasi dengan ketelitian dalam memverifikasi fakta.

Latest Articles

  • Dapat kado umrah dari Syifa Hadju, cara Kesha Ratuliu dan suami balas kebaikan menantu Maia terekam

    Dapat kado umrah dari Syifa Hadju, cara Kesha Ratuliu dan suami balas kebaikan menantu Maia terekam

    Jumat, 6 November 2026 – 06:09
  • Dari kasus Ferdy Sambo hingga Listyo Sigit, apa yang salah dengan Polri?

    Dari kasus Ferdy Sambo hingga Listyo Sigit, apa yang salah dengan Polri?

    Jumat, 6 November 2026 – 03:57
  • Jangan sembarangan bicara! 7 weton ini disebut punya ucapan bertuah menurut kepercayaan Jawa

    Jangan sembarangan bicara! 7 weton ini disebut punya ucapan bertuah menurut kepercayaan Jawa

    Selasa, 3 November 2026 – 12:17

Tiktok wartabrita

@wartabrita
  • Instagram
  • Facebook
  • LinkedIn
  • X
  • VK
  • TikTok

Copyright ©2026 WartaBrita. All Rights Reserved

Scroll to Top