Sejarah dan Perjalanan Nasida Ria yang Berusia 50 Tahun
Nasida Ria, sebuah kelompok musik qasidah asal Semarang, Jawa Tengah, kini memasuki usia 50 tahun. Kelompok ini lahir pada tahun 1975 dan telah menjadi bagian dari kenangan banyak orang. Lagu-lagu mereka tidak hanya sekadar karya musik, tetapi juga bagian dari perjalanan hidup masyarakat Indonesia. Salah satu lagu yang paling melekat di ingatan adalah “Perdamaian”. Meski sudah puluhan tahun berlalu sejak pertama kali diperkenalkan, lagu tersebut masih sering diputar dan dinyanyikan hingga saat ini.
Sejarah Nasida Ria
Nasida Ria didirikan oleh almarhum H.M. Zain, seorang guru Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang memiliki visi menyebarkan nilai-nilai Islam melalui seni musik. Awalnya, kelompok ini berawal dari sebuah asrama sederhana di Semarang, tempat H.M. Zain mengumpulkan murid-muridnya untuk belajar musik dari nol. Selain belajar memainkan alat musik dan bernyanyi, para anggota juga mendapatkan pendidikan keagamaan yang menjadi fondasi utama kelompok tersebut.
Kepemimpinan generasi pertama dipegang oleh Hj. Mudrikah Zain, sebelum kemudian dilanjutkan oleh generasi kedua di bawah pimpinan Gus Choliq Zain. Menurut Gus Choliq, tiga hal menjadi kunci bertahannya Nasida Ria selama setengah abad: konsistensi, kekeluargaan, dan regenerasi.
Menjaga Regenerasi
Regenerasi menjadi tantangan besar bagi kelompok musik yang telah berdiri selama puluhan tahun. Namun, bagi Nasida Ria, proses ini justru menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan grup. Saat ini, personel Nasida Ria terdiri dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari ibu rumah tangga hingga wiraswasta. Meski memiliki kesibukan masing-masing, aktivitas bermusik tetap berjalan berdampingan dengan kehidupan sehari-hari.
Untuk mencari penerus, Nasida Ria secara aktif melakukan seleksi terhadap anak-anak muda yang memiliki minat dan bakat di bidang musik. Mereka diberikan ruang untuk belajar dari tahap paling dasar, sebagaimana generasi pertama Nasida Ria dahulu memulai perjalanan bermusiknya.
Dakwah Melalui Lagu
Selama lima dekade, Nasida Ria dikenal melalui lagu-lagu yang mengangkat pesan moral, sosial, dan nilai-nilai keislaman. Mayoritas lagu mereka diciptakan oleh kerabat maupun sahabat H.M. Zain yang berasal dari kalangan ulama, kiai, dan ustaz. Inspirasi lagu-lagu tersebut berasal dari Al Quran, hadis, nilai-nilai Islam, hingga berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk isu sosial, politik, dan ilmu pengetahuan.
Menurut Gus Choliq, tema-tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat pesan yang disampaikan lebih mudah diterima oleh masyarakat. Dari sekian banyak karya yang telah dihasilkan, lagu “Perdamaian” menjadi salah satu yang paling berkesan bagi Nasida Ria. Lagu tersebut dinilai memiliki pesan universal yang tetap relevan bagi setiap generasi.
Tetap Relevan di Era Digital
Meskipun berangkat dari tradisi musik qasidah, Nasida Ria tidak menutup diri terhadap perkembangan zaman. Kelompok musik asal Semarang itu kini aktif memanfaatkan media sosial, mendistribusikan karya melalui berbagai platform musik digital, hingga tampil dalam festival-festival musik yang banyak dihadiri generasi muda.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya agar musik qasidah tetap dapat menjangkau pendengar baru tanpa kehilangan identitasnya. Upaya itu membuahkan hasil. Dalam beberapa tahun terakhir, nama Nasida Ria kembali dikenal oleh kalangan anak muda yang sebelumnya tidak akrab dengan musik qasidah.
Dari Semarang untuk Dunia
Perjalanan Nasida Ria tidak hanya dikenal di Indonesia. Kelompok musik ini juga beberapa kali mendapatkan kesempatan tampil di luar negeri. Bagi Gus Choliq, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa musik dengan pesan-pesan universal dapat diterima oleh masyarakat lintas budaya. Antusiasme penonton luar negeri menunjukkan bahwa qasidah tidak hanya menjadi milik masyarakat Indonesia, tetapi juga dapat dinikmati oleh audiens internasional.
Meski telah tampil di berbagai negara, Semarang tetap memiliki arti istimewa bagi Nasida Ria. Kota Semarang selalu menjadi rumah dan identitas mereka. Kedekatan masyarakat dengan Nasida Ria juga terbentuk melalui memori kolektif yang panjang. Lagu-lagu mereka pernah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia, diputar melalui radio, pengeras suara musala, hingga menemani aktivitas keluarga di rumah.
Lirik Lagu “Perdamaian”
Perdamaian perdamaian
Perdamaian perdamaian
Perdamaian perdamaian
Banyak yang cinta damai
Tapi perang makin ramai
Banyak yang cinta damai
Tapi perang makin ramai
Bingung bingung ku memikirnya
Perdamaian perdamaian
Perdamaian perdamaian
Perdamaian perdamaian
Perdamaian perdamaian
Banyak yang cinta damai
Tapi perang makin ramai
Banyak yang cinta damai
Tapi perang makin ramai
Bingung bingung ku memikirnya
Wahai kau anak manusia
Ingin aman dan sentosa
Wahai kau anak manusia
Ingin aman dan sentosa
Tapi kau buat senjata
Biaya berjuta-juta
Tapi kau buat senjata
Biaya berjuta-juta
Banyak gedung kau dirikan
Kemudian kau hancurkan
Banyak gedung kau dirikan
Kemudian kau hancurkan
Bingung bingung ku memikirnya
Perdamaian perdamaian
Perdamaian perdamaian
Perdamaian perdamaian
Perdamaian perdamaian
Banyak yang cinta damai
Tapi perang makin ramai
Banyak yang cinta damai
Tapi perang makin ramai
Bingung bingung ku memikirnya
Rumah sakit kau dirikan
Orang sakit kau obatkan
Rumah sakit kau dirikan
Orang sakit kau obatkan
Orang miskin kau kasihi
Anak yatim kau santuni
Orang miskin kau kasihi
Anak yatim kau santuni
Bom atom kau ledakkan
Semua jadi berantakan
Bom atom kau ledakkan
Semua jadi berantakan
Bingung bingung ku memikirnya
Perdamaian perdamaian
Perdamaian perdamaian
Perdamaian perdamaian
Perdamaian perdamaian
Banyak yang cinta damai
Tapi perang makin ramai
Banyak yang cinta damai
Tapi perang makin ramai
Bingung bingung ku memikirnya




Tinggalkan Balasan