Dukungan Orang Tua yang Tak Terlihat di Balik Kesuksesan Seorang Atlet Muda
Irsyad Shibra Ilahi, kapten Banteng DKI Jakarta dalam Soekarno Cup 2026, memiliki perjalanan yang tidak mudah untuk mencapai posisi ini. Dari usia muda hingga kini menjadi pemimpin tim, ia selalu didampingi oleh ayahnya, Anas, yang memberikan dukungan penuh sejak awal.
Pengorbanan Waktu yang Dimulai Sejak Usia 7 Tahun
Bagi Anas, pengorbanan terbesar adalah waktu. Karena Irsyad mulai bermain sepak bola pada usia 7 tahun, keluarga harus menyesuaikan jadwal harian mereka dengan agenda latihan dan pertandingan yang sering kali menguras energi.
“Sampai di titik ini pengorbanan kami sebagai orang tua tentunya waktu, karena sejak dari usia 7 tahun anak saya sudah mulai bermain bola,” ujarnya.
Setiap pekan, Anas rela menghabiskan waktu bersama putranya, baik untuk mengantar ke latihan maupun bertanding. Ini bukan hanya sekadar mengantar, tetapi juga memastikan bahwa Irsyad siap secara fisik dan mental untuk menghadapi setiap pertandingan.
Pengorbanan Materi untuk Mendukung Perjalanan Sepak Bola
Selain waktu, Anas juga rela mengeluarkan materi untuk memenuhi kebutuhan Irsyad. Mulai dari peralatan sepak bola hingga seragam yang digunakan saat bertanding, semuanya dikeluarkan tanpa ragu.
“Rela berkorban materi demi membeli peralatan bola seragam dan mengantar anak turnamen setiap akhir pekan baik di dalam maupun luar kota,” katanya.
Pengorbanan ini menjadi bagian penting dalam proses pembentukan seorang atlet muda. Dengan dukungan seperti ini, Irsyad bisa berkembang dan akhirnya dipercaya menjadi kapten Banteng DKI Jakarta dalam Soekarno Cup 2026.
Dari Turnamen Hingga Menjadi Kapten
Perjalanan Irsyad tidak hanya tentang bermain sepak bola, tetapi juga tentang belajar tanggung jawab. Sebagai kapten, ia tidak hanya dituntut untuk tampil baik di lapangan, tetapi juga menjadi contoh bagi rekan-rekannya.
Anas menjelaskan bahwa posisi kapten membawa tanggung jawab yang lebih besar. Irsyad harus mampu memimpin dengan sikap yang baik dan nilai-nilai yang telah diajarkan sejak kecil.
Nilai Sportivitas yang Selalu Diingatkan
Anas tidak hanya ingin Irsyad menang, tetapi juga belajar cara bermain dengan sportif. Ia selalu menanamkan pesan bahwa lawan bukanlah musuh, melainkan teman seprofesi yang harus saling menghormati.
“Saya selalu menanamkan nilai kepada anak saya bahwa ‘Lawanmu adalah lawan teman bermain mu selama 90 menit’. Harus respect, sportif, dan tidak boleh ada niatan untuk mencederai,” ujarnya.
Nilai ini sangat relevan ketika Irsyad menjadi kapten. Ia harus mampu menerapkan sikap sportif dalam permainan, serta menjaga keselamatan dan keharmonisan dengan rekan satu tim.
Soekarno Cup 2026 sebagai Panggung Talent Muda
Soekarno Cup 2026 bukan hanya kompetisi biasa, tetapi juga menjadi ruang pembinaan pemain muda Indonesia. Ajang ini melibatkan pemain usia 17 tahun dari 16 provinsi yang diharapkan bisa menjadi pintu menuju level nasional maupun internasional.
Bagi Irsyad, kesempatan ini menjadi bagian dari proses panjang yang dimulai sejak usia dini. Di balik kesuksesannya, terdapat dukungan tak terlihat dari keluarga, termasuk Anas yang selalu mendampingi.
Nilai-Nilai yang Dipegang Keluarga
Cerita Anas menunjukkan bahwa perjuangan orang tua sering kali tidak terlihat, tetapi sangat penting dalam menghasilkan atlet yang berkualitas. Dengan dukungan dan nilai-nilai yang ditanamkan, Irsyad tidak hanya menjadi pemain hebat, tetapi juga sosok yang berintegritas.
Anas percaya bahwa medali bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Yang lebih penting adalah sikap menghormati lawan dan menjaga sesama pemain. Nilai-nilai ini akan menjadi bekal bagi Irsyad dalam mengejar mimpi lebih besar bersama generasi muda Indonesia.









Tinggalkan Balasan