Kasus Gizi Buruk di Kabupaten Ciamis
Seorang balita bernama Aef Heryadi (3 tahun) asal Dusun Mekarjaya, Desa Kaso, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) karena mengalami gizi buruk. Berat badan Aef hanya 9 kilogram, jauh di bawah standar ideal untuk anak seusianya. Hal ini menunjukkan kondisi kesehatan yang memprihatinkan dan menjadi perhatian masyarakat.
Desa Kaso sendiri berjarak sekitar 45 kilometer dari pusat kota Ciamis, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 13 menit. Pada 2022, desa ini menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus dalam analisis stunting di Kabupaten Ciamis. Penanganan kasus gizi buruk pada Aef dilakukan setelah puskesmas setempat melakukan penjaringan dan menemukan bahwa berat badannya berada di bawah garis merah pada Kartu Menuju Sehat (KMS).
Berdasarkan standar World Health Organization (WHO), berat ideal anak laki-laki usia 3 tahun berkisar antara 11,3 hingga 18,3 kilogram. Sementara itu, Aef hanya memiliki berat badan 9 kilogram. Hal ini menunjukkan adanya masalah serius dalam asupan nutrisi yang diterimanya.
Data Gizi di Jawa Barat
Menurut data dari opendata.jabarprov.go.id, terdapat 429.974 kasus akumulasi masalah gizi pada balita di Jawa Barat pada 2024. Angka tersebut mencakup 182.833 balita kurus, 152.048 balita pendek (stunting), dan 95.093 balita gizi kurang. Lima daerah dengan kasus permasalahan gizi terbanyak adalah:
- Kabupaten Bandung: 51.148 kasus
- Kabupaten Garut: 43.166 kasus
- Kabupaten Sukabumi: 41.176 kasus
- Kabupaten Cirebon: 32.860 kasus
- Kabupaten Bogor: 28.159 kasus
Selain itu, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terakhir pada 2024, sekitar 1,6 juta anak balita mengalami gizi buruk, termasuk lebih dari 260.000 anak yang mengalami gizi buruk berat yang mengancam jiwa.
Apa Itu Gizi Buruk?
Gizi buruk adalah kondisi di mana berat badan anak terlalu rendah dibandingkan tinggi badannya. Anak dengan gizi buruk atau severe wasting biasanya memiliki daya tahan tubuh yang sangat lemah, sehingga rentan terkena penyakit parah hingga meninggal. Gizi buruk berbeda dengan stunting, yang ciri-cirinya adalah tinggi badan anak lebih pendek dari standar usianya.
Penyebab utama gizi buruk adalah kekurangan asupan makanan yang bernutrisi sesuai kebutuhan masing-masing kelompok usia. Masalah ini bisa muncul karena tidak tersedianya bahan makanan berkualitas baik. Selain itu, gangguan penyerapan nutrisi akibat penyakit kronis seperti diare kronis atau tuberkulosis (TBC) juga bisa menyebabkan gizi buruk.
Berikut beberapa gejala yang dialami oleh anak yang mengalami gizi buruk:
- Tubuh anak tampak sangat kurus
- Wajah keriput
- Kulit kering
- Perut tampak buncit
- Sering lemas dan tidak aktif bermain
- Gangguan tumbuh kembang
- Rambut mudah rontok dan tampak kusam
- Pembengkakan (edema) di tungkai

Cara Mencegah Gizi Buruk pada Balita
Menurut buku Pedoman Pencegahan Tatalaksana Gizi Buruk pada Balita dari Kementerian Kesehatan, pencegahan gizi buruk dilakukan sedini mungkin dengan prinsip-prinsip berikut:
- Upaya perbaikan status gizi ibu masa remaja, termasuk menghindari kehamilan “4 terlalu” dan menjaga kesehatan ibu sebelum hamil.
- Pemenuhan kebutuhan gizi balita sejak lahir, dengan standar emas makanan bayi seperti inisiasi menyusu dini (IMD) dan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama.
- Penapisan massal untuk menemukan hambatan pertumbuhan dan gizi kurang pada balita secara berkala.
- Perhatian khusus diberikan kepada bayi dan balita dengan faktor risiko mengalami kekurangan gizi, seperti bayi prematur, balita dengan infeksi kronis, atau balita dari keluarga dengan status sosio ekonomi kurang.
- Dukungan program terkait diperlukan dalam upaya pemenuhan total cakupan pelayanan, konseling pemberian makan sesuai umur, dan penanganan balita sakit secara komprehensif.
- Dukungan lintas sektor diperlukan dalam pemenuhan kebutuhan air bersih, sanitasi, dan lingkungan sehat.
- Perhatian khusus diberikan kepada balita rentan melalui berbagai intervensi pencegahan, seperti dalam upaya “Seribu Hari Pertama Kehidupan”.
Program Pemerintah untuk Pencegahan dan Penanganan Gizi Buruk
Pemerintah telah menyiapkan berbagai program untuk mencegah hingga menangani kasus gizi buruk pada balita, antara lain:
-
Posyandu
Posyandu merupakan layanan pelayanan terpadu yang menyediakan imunisasi, timbang berat badan, dan pemantauan gizi balita. Melalui layanan ini, permasalahan gizi bisa lebih cepat terdeteksi. -
PMT Pangan Lokal
PMT Pangan Lokal adalah program Kemenkes untuk meningkatkan status gizi balita melalui pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal. Program ini menyasar balita dengan berbagai kondisi gizi. -
Makan Bergizi Gratis (MBG)
MBG adalah program strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan mengurangi angka permasalahan gizi. Namun, pelaksanaannya masih mendapatkan banyak kritik dari masyarakat. -
Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi (IMAM)
Program kerjasama antara Kementerian Kesehatan, UNICEF, dan Child Nutrition Fund (CNF) yang bertujuan meningkatkan akses anak gizi buruk terhadap makanan terapi gizi buruk siap konsumsi (RUTF).




Tinggalkan Balasan