Ringkasan Berita:
- Warung Sate Kuda Lumintu berada di pinggir jalan poros Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang
- Warung Sate Kuda Lumintu identik dengan warna hijau muda kombinasi kuning
- Tempat makan yang sudah buka sejak 2006 ini tak pernah sepi pengunjung
Wartabrita.com, KABUPATEN MALANG – Biasanya kuliner sate terbuat dari daging ayam, kambing, maupun sapi.
Namun siapa sangka, sebuah warung sate di Kabupaten Malang ini justru menyajikan sate dari daging kuda.
Warung tersebut bernama Warung Sate Kuda Lumintu. Lokasinya berada di pinggir jalan poros Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.
Untuk mencari lokasinya cukup mudah. Terdapat tulisan Sate Kuda di depan warung.
Kemudian warung itu identik dengan warna hijau muda kombinasi kuning.
Tempat makan yang sudah buka sejak 2006 ini tak pernah sepi pengunjung.
Seperti pada Minggu (13/9/2026), sejumlah pembeli silih berganti ke warung sate kuda tersebut.
“Nggak sering sih ke sini, beberapa kali aja buat beli sate kuda,” kata Ahmad, warga Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang.
Ahmad mengaku dibanding menu lain yang disajikan, ia lebih menggemari sate kuda.
Menurutnya, rasa sate ini hampir mirip dengan daging sapi. Hanya saja, setelah mengonsumsi daging ini efeknya membuat badan lebih hangat.
“Habis makan sate badan itu kerasa panas,” imbuhnya.
Sementara itu, Yuanita pemilik Warung Sate Kuda Lumintu tampak sedang membakar daging kuda di atas arang.
Ia merupakan generasi kedua dari ayahnya yang membuka warung ini terlebih dahulu.
“Awalnya dulu bapak suka makan sate kuda sama temen-temennya. Akhirnya bapak inisiatif buat jualan sate kuda,” ujar Yuanita.
Dua puluh tahun lamanya, pembeli sate kuda rata-rata untuk pengobatan.
Menurut Yuanita, daging kuda memiliki khasiat untuk mengatasi penyakit gatal di kulit, asma, menambah stamina, hingga obat untuk diabetes.
Selain itu, daging ini dipercaya mampu mempercepat kering pada luka pascaoperasi.
“Kalau rasa dagingnya hampir sama kayak sapi, bedanya itu serat lebih besar dan kalau dimakan itu rasanya anget di badan,” sambungnya.
Warung ini buka setiap hari mulai pukul 11.00 WIB sampai dengan pukul 21.00 WIB.
Selain menyajikan hidangan sate kuda, warung ini juga menyediakan olahan daging kuda untuk tongseng dan krengsengan.
Tak hanya olahan makanan berbahan dasar daging kuda, warung ini juga menjual menu lainnya seperti sate ayam, sate kambing, hingga lalapan.
Sedangkan untuk sate kuda dijual dengan harga Rp 50 ribu per sepuluh tusuk.
Pembelinya, tak hanya dari warga Kabupaten Malang saja. Melainkan dari luar kota seperti Surabaya, Lumajang, dan kota lain juga banyak yang penasaran dengan olahan daging kuda tersebut.
“Biasanya pembeli itu dari luar kota yang ke Malang untuk wisata. Ramenya ya biasanya di weekend, Jumat, Sabtu, dan Minggu,” urainya.
Sementara untuk bahan baku daging kuda cukup sulit ditemukan di Malang.
Untuk mendapatkan daging ini, ia harus mencari kuda hidup dari luar Malang lalu disembelih sendiri di Rumah Potong Hewan (RPH).
Biasanya, ia membeli kuda hidup dari Blitar, Mojokerto, hingga Jombang. Satu ekor kuda itu dibawa ke Malang untuk disembelih setelah dinyatakan layak untuk dikonsumsi.
“Di sini itu susah cari ternak kuda, jadi belinya ke luar kota untuk dipotong di RPH Cemorokandang,” tuturnya.
Satu ekor kuda yang ia sembelih beratnya bisa mencapai 100 kilogram lebih. Setelah disembelih, Yuanita akan menyetok untuk keperluan satu bulan ke depan.




Tinggalkan Balasan