Tradisi Pelal Ageng Panjang Jimat di Keraton Kanoman Cirebon
Tradisi Pelal Ageng Panjang Jimat yang diselenggarakan oleh Keraton Kanoman Cirebon menjadi momen penting dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Prosesi ini tidak hanya sekadar pawai pusaka, tetapi juga memiliki makna simbolis dan alegoris yang mendalam.
Makna Simbolis dari Pusaka
Dalam tradisi tersebut, benda-benda pusaka yang diarak merupakan simbolisasi dari perlengkapan dan perjalanan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Setiap benda yang dibawa memiliki makna khusus, seperti obor menyala, payung pusaka, lilin besar, serta perlengkapan yang dibungkus kain. Barisan perempuan berkebaya kuning juga turut serta dalam prosesi, membawa nampan yang ditutup kain hijau-kuning. Selain itu, sejumlah peserta lainnya membawa peti atau perlengkapan adat yang dipikul di atas pundak.
Selama prosesi, masyarakat ikut melantunkan selawat, menambah kesan khidmat dan religius. Juru Bicara Kesultanan Kanoman, Ratu Raja Arimbi Nurtina, menjelaskan bahwa pusaka-pusaka yang diarak merupakan peninggalan Syekh Syarif Hidayatullah dan para leluhur sebelumnya. Menurutnya, benda-benda tersebut memiliki makna simbolis yang berkaitan erat dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Pemahaman Masyarakat tentang Pusaka
Menurut Arimbi, prosesi Panjang Jimat juga menjadi sarana bagi pihak keraton untuk memperkenalkan benda-benda pusaka kepada masyarakat. Pusaka yang selama ini tersimpan memiliki nilai sejarah dan menjadi bagian dari warisan leluhur Kesultanan Kanoman. Dengan mengarak benda-benda tersebut, masyarakat bisa mengetahui dan mempelajari apa itu pusaka dan jimat-jimat.
Arimbi berharap, tradisi ini tidak hanya dipahami sebagai tontonan tahunan, tetapi juga menjadi bagian dari syiar kepada masyarakat. “Sehingga apa yang kami lakukan ini menjadi sebuah syiar bagi masyarakat,” katanya.
Arti Nama ‘Panjang Jimat’
Makna Panjang Jimat sendiri memiliki penjelasan khusus dalam tradisi Keraton Kanoman. Istilah ‘Panjang’ merujuk pada sebuah piring pusaka berbentuk bundar besar. Piring tersebut disebut merupakan pemberian seorang pertapa suci bernama Sanghyang Bango dari Gunung Siangkup. Sementara istilah ‘jimat’ merujuk pada benda yang memiliki nilai sejarah dan nilai pusaka yang harus dijaga. Namun, dalam tradisi Panjang Jimat, jimat juga dikaitkan dengan nasi yang diproses secara khusus.
Nasi yang diproses dengan lantunan selawat kepada Nabi Muhammad SAW disebut sebagai nasi jimat. Proses pembuatan nasi jimat dilakukan oleh rombongan Bapak Sindangkasih dari Majalengka. Nasi kemudian disucikan atau dipesusi di Sumur Bandung dengan diiringi lantunan selawat oleh rombongan ibu-ibu yang menjaga wudu dan kesucian diri. Salah satunya adalah Perawan Sunti.
Dalam pemaknaan tradisi ini, ‘jimat’ bukan semata-mata benda, melainkan selawat yang dipanjatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Selawat tersebut dimaknai sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengharapan syafaat Nabi. Karena itu, iring-iringan nasi jimat bersama piring panjang menjadi bagian yang kemudian dikenal sebagai Panjang Jimat.
Persiapan Selama 40 Hari
Pelal Ageng Panjang Jimat bukan ritual yang persiapannya dilakukan dalam waktu singkat. Arimbi menyebut, berbagai rangkaian spiritual dan persiapan telah dilakukan selama 40 hari menjelang malam puncak. Salah satu kegiatan adalah Memayu, yakni kegiatan membersihkan dan merawat bangunan-bangunan yang ada di lingkungan keraton bersama para abdi dalem. Selain itu terdapat prosesi Mipis yang berkaitan dengan pembuatan kolak duren atau makanan khas. Ada pula Bikin Banjir, yakni proses pembuatan minyak dari kelapa.
Di mana kami melakukan semuanya secara bertahap dari mulai 40 hari sebelumnya hingga saat ini adalah puncak Pelal di Keraton Kanoman, ujar Arimbi.
Rangkaian Acara Malam Pelal Ageng
Malam Pelal Ageng sendiri dimaknai sebagai malam keutamaan yang besar, yakni malam yang memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Rangkaian puncak dimulai sekitar pukul 19.30 WIB dengan pembacaan doa tawassul di Pendopo Jinem. Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan Babad Panjang Jimat dan sejarah Kesultanan Kanoman. Sekitar pukul 20.00 WIB, dilakukan penyiapan sajian pelal oleh Pangeran Kumisi di Langgar Alit. Kemudian Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin, Sultan Anom XII, dijemput oleh keluarga keraton sekitar pukul 20.20 WIB.
Prosesi sembah bakti Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran kepada Sultan Anom XII berlangsung sekitar pukul 20.30 WIB. Pangeran Patih kemudian mengenakan jubah rasul dan bersiap memimpin Pawai Alegoris sekitar pukul 21.00 WIB menuju Masjid Agung Keraton Kanoman. Di dalam masjid, rangkaian dilanjutkan dengan pembacaan Srakalan Maulid Barzanji yang dipimpin Penghulu Kesultanan Kanoman. Prosesi tersebut berlangsung hingga sekitar tengah malam atau pukul 01.00 WIB.




Tinggalkan Balasan